Home / NTB

Mengejar Tenggat, Menantang Alam: Kisah di Balik Kejar Tayang Proyek Infrastruktur NTB Menjelang HUT ke-67

- Wartawan

Jumat, 12 Desember 2025 - 22:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah tekanan tenggat dan kondisi lapangan yang kompleks, Kepala Dinas PUPR NTB, Sadimin, memaparkan upaya percepatan pembangunan infrastruktur yang terus digenjot hingga hari peresmian. (Foto: Istimewa)

Di tengah tekanan tenggat dan kondisi lapangan yang kompleks, Kepala Dinas PUPR NTB, Sadimin, memaparkan upaya percepatan pembangunan infrastruktur yang terus digenjot hingga hari peresmian. (Foto: Istimewa)

Halontb.com – Saat matahari baru naik di ufuk timur Tanjung Geres, debu halus masih mengepul di antara suara mesin pemadat yang meraung-raung. Di tepi jalan, seorang pekerja Lapangan mengusap keringatnya yang bercampur dengan serpihan tanah. “Sudah mau selesai, tinggal haluskan,” katanya sambil menunjuk bentang jalan yang mulai rata.

Ia tidak berbicara dalam konteks rutinitas. Ia sedang berbicara tentang waktu. Tentang target. Tentang proyek yang harus beres sebelum tanggal 17 Desember 2025, hari ketika Nusa Tenggara Barat merayakan ulang tahunnya yang ke-67.

Babak Percepatan: Ketika Kalender Menjadi Tekanan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah Provinsi NTB memutuskan untuk menggeber penyelesaian sejumlah proyek strategis sejak Oktober. Dua bulan kerja tanpa jeda, lembur hingga malam, dan rombongan alat berat yang tidak berhenti bergerak.

Di kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB, Kepala Dinas Sadimin mencoba merangkai kalimat yang seimbang antara optimisme dan realita.

“Sudah mulai mulus dan bisa dilewati,” ujarnya.

Ada nada lega di suaranya. Tetapi di balik kalimat itu, tersembunyi upaya masif yang tidak semua orang melihatnya.

Jalan Baru, Harapan Baru atau Sekadar Seremoni?

Dua ruas jalan utama yang menjadi sorotan adalah:

  • Tanjung Geres – Pohgading (4 km, Rp28 miliar)
  • Simpang Tano – Seteluk (3,8 km, Rp32,5 miliar)

Keduanya kini telah lebih dari 90 persen selesai. Jalan yang sebelumnya memakan waktu 20 menit kini dapat ditembus hanya dalam 5 menit. Di lapangan, warga mulai merasakan perubahan.

Namun, setiap jalan mulus selalu menyimpan pertanyaan: Berapa lama ia akan bertahan?

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya berkata,
“Bagus sekarang, tapi kami ingin lihat bertahan sampai musim hujan berikutnya.”

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam banyak proyek percepatan di daerah lain, kualitas sering kali dikorbankan demi tenggat seremoni.

Lenangguar – Lunyuk: Antara Ambisi dan Geologi yang Tak Bisa Dikompromikan

Jika dua proyek pertama berjalan mulus, cerita berbeda datang dari ruas Lenangguar – Lunyuk.

Di sana, alam tidak bekerja sama. Tanah bergerak. Tebing runtuh. Pengeboran terhenti.

“Saat pemasangan besi, tanah longsor. Harus dibersihkan dulu agar kualitas cor tidak jelek,” ungkap Sadimin.

Progres proyek baru mencapai 70 persen. Nilai proyeknya Rp20 miliar, termasuk penanganan dua titik tebing aktif. Bagi para insinyur, ini bukan sekadar pekerjaan jalan. Ini pertandingan melawan struktur tanah yang rapuh dan labil.

Seorang teknisi lapangan bercerita:

“Di sini tidak bisa buru-buru. Kalau dipaksa, nanti retak lagi. Kami harus sabar, sementara semuanya ingin3 cepat selesai.”

Inilah dilema besar pembangunan:
Apakah kecepatan bisa disandingkan dengan kualitas ketika geologi tidak mendukung?

Tiga Irigasi: Pembangunan yang Senyap Namun Vital

Di balik gemuruh proyek jalan, Pemprov NTB juga menyelesaikan tiga jaringan irigasi senilai Rp13,5 miliar. Tidak banyak sorotan publik ke sana, tetapi para petani tahu betul:

Irigasi yang baik lebih penting dari spanduk peresmian.

Semua jaringan itu kini sudah rampung. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, akan memilih salah satu titik untuk peresmian simbolis.

Namun, para pengamat mengingatkan bahwa irigasi bukan hanya soal beton dan saluran. Ia adalah soal tata air, keseimbangan musim, dan keberlanjutan.

“Hadiah Ulang Tahun” yang Menguji Integritas Pembangunan

PUPR NTB menyebut proyek ini sebagai “hadiah ulang tahun”. Istilah yang menarik, tetapi juga mengandung muatan simbolik yang berat.

Hadiah bagi siapa?
Untuk masyarakat?
Untuk catatan birokrasi?
Atau untuk sekadar foto peresmian?

Dalam wawancara dengan beberapa pengamat infrastruktur, muncul satu kesimpulan penting:

“Kejar tayang bukan masalah, selama kualitas tidak dikorbankan. Yang kami takutkan adalah proyek yang dibuat secara sempurna untuk hari peresmian, tetapi gagal dalam satu musim hujan.”

Feature investigatif harus menyoroti itu, ruang kosong antara pencapaian yang ditampilkan dan ketahanan jangka panjang.

Di Balik Pengerjaan: Keringat, Risiko, dan Ketidakpastian

Di lapangan, para pekerja tidak berbicara tentang anggaran, persentase progres, atau strategi politik. Mereka berbicara tentang:

  • tanah yang tiba-tiba bergerak
  • alat berat yang harus dioperasikan hingga larut
  • hujan yang turun tanpa peringatan
  • target waktu yang terus menekan

Salah satu mandor mengisahkan,

“Kalau hujan turun di Lenangguar, kami harus turun dari tebing. Risiko terlalu tinggi.”

Inilah realitas yang jarang muncul dalam konferensi pers.

Akhir Cerita yang Belum Selesai

Feature investigatif tidak menutup cerita dengan kepastian karena pembangunan adalah proses panjang yang tidak berhenti saat gunting peresmian menggunting pita.

Yang jelas, proyek-proyek ini akan segera diserahkan kepada masyarakat NTB sebagai “kado ulang tahun”.

Tetapi seperti semua hadiah, nilai sesungguhnya bukan pada bungkusnya, melainkan pada ketahanan, manfaat, dan dampak jangka panjangnya.

Dan itu hanya bisa dibuktikan oleh waktu.

Facebook Comments Box

Editor : reza

Berita Terkait

Izin Tambang Rakyat NTB Mandek: Benarkah Karena Gubernur Abaikan Presiden? Simak Jawaban Teknis ESDM
Sinergi FDIK UIN Mataram dan Kemenhaj: Menstandardisasi Kompetensi Pembimbing Haji di Era Baru.
Kado Terindah Awal Tahun! 2.997 Tenaga Honorer Lobar Akhirnya Resmi Berstatus ASN
Pemprov NTB dan Direktorat PPA Polda NTB Kolaborasi Berantas Kejahatan Siber Terhadap Perempuan dan Anak
VIRAL! Potret Memprihatinkan Janda Miskin Ekstrem di Kuripan Selatan, Menanti Uluran Tangan Pemerintah
Dari Bantuan Hingga Asesmen, YBM PLN Petakan Luka Banjir di Sekotong Lombok Barat
Akses Lumpuh Total, DPRD Lombok Barat Minta Perbaikan Jembatan Sedau Jadi Prioritas Utama
Sadis dan Misterius! Mr X Ditemukan Tewas Terbakar di Sekotong, Polisi Selidiki Unsur Pembunuhan

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 15:22 WITA

Resmi! Kasat Narkoba Polres Bima Kota Ditetapkan sebagai Tersangka dan Dipecat Tidak Hormat

Rabu, 4 Februari 2026 - 05:26 WITA

Digugat PMH, BTN Cabang Mataram Terancam Uji Legalitas Appraisal dan Lelang Aset

Selasa, 3 Februari 2026 - 01:21 WITA

Tragis, Ayah Tebas Anak Kandung di Lombok Barat: Polisi Naikkan Status ke Penyidikan

Selasa, 3 Februari 2026 - 01:16 WITA

Berbekal Rekaman CCTV, Tim Puma Polda NTB Berhasil Tangkap Residivis Jambret Lintas Wilayah

Jumat, 30 Januari 2026 - 07:42 WITA

Oknum Pimpinan Ponpes di Lotim Dilaporkan Atas Dugaan Persetubuhan Terhadap Santriwati

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:50 WITA

Satu Jam Menunggu di Samping Api, Ini Pengakuan Pria yang Tega Bakar Ibu Kandungnya.

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:27 WITA

Anak Bunuh Ibu Kandung, Jenazah Dibakar di Sekotong untuk Hilangkan Jejak

Senin, 26 Januari 2026 - 10:50 WITA

Terkuak! Kades Sekotong Barat Ungkap Teka-teki Mobil Putih di Balik Tragedi Penemuan Mayat Terbakar

Berita Terbaru