Home / NTB

VIRAL! Potret Memprihatinkan Janda Miskin Ekstrem di Kuripan Selatan, Menanti Uluran Tangan Pemerintah

- Wartawan

Rabu, 28 Januari 2026 - 01:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi gubuk berdinding terpal dan bambu yang ditempati Inak Haeriah bersama keluarganya di Dusun Aik Jambe, Desa Kuripan Selatan, Lombok Barat, yang masuk kategori miskin ekstrem.(Foto: Dok. Taufik Natanagara)

Kondisi gubuk berdinding terpal dan bambu yang ditempati Inak Haeriah bersama keluarganya di Dusun Aik Jambe, Desa Kuripan Selatan, Lombok Barat, yang masuk kategori miskin ekstrem.(Foto: Dok. Taufik Natanagara)

Lombok Barat,Halontb.com — Potret kemiskinan ekstrem masih nyata di Kabupaten Lombok Barat. Seorang janda lanjut usia, Inak (Ibu) Aeriah, warga Dusun Aik Jambe RT 01, Desa Kuripan Selatan, Kecamatan Kuripan, terpaksa bertahan hidup bersama delapan anggota keluarganya di sebuah gubuk reot berdinding terpal dan rangka bambu yang jauh dari kata layak huni.

Kondisi memprihatinkan itu terungkap setelah tokoh masyarakat Kuripan Selatan, Sahabudi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD), menerima laporan dari warga sekitar. Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Jurnalis Online Indonesia (JOIN) NTB turun langsung ke lokasi pada Senin (27/1/2026) untuk melihat secara langsung kondisi tempat tinggal keluarga tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gubuk yang ditempati Inak Haeriah berdiri di atas tanah tanpa pondasi permanen. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu (bedek) kemudian di lapis terpal plastik bekas dan karung, sebagian sobek dan mulai rapuh. Atapnya menggunakan terpal hitam tipis yang ditopang batang kayu hutan seadanya, sehingga sangat rawan bocor saat hujan dan tidak mampu menahan panas maupun angin kencang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagian dalam rumah tampak sempit, gelap, dan lembap. Lantai masih berupa bilah bambu dan tanah, dialasi tikar lusuh serta karpet tipis. Tidak terdapat sekat permanen antara ruang tidur, dapur, dan ruang keluarga. Perabotan rumah tangga sangat terbatas, sebuah lemari kayu tua berisi pakaian, beberapa ember plastik, serta peralatan dapur sederhana.

Fasilitas sanitasi di lokasi tersebut sangat jauh dari kata layak. Untuk keperluan mandi dan cuci, keluarga ini hanya mengandalkan bilik terbuka yang disekat terpal lusuh dan kain batik tua. Tragisnya, karena letak rumah yang berada di perbukitan, mereka harus menempuh perjalanan jauh menurun lembah hanya untuk mendapatkan air bersih

Instalasi listrik pun tampak sangat sederhana dan berisiko, hanya mengandalkan kabel menggantung tanpa pelindung memadai. Kondisi tersebut dinilai berbahaya, terutama bagi anak-anak yang tinggal di dalamnya.

Inak Aeriah diketahui telah bertahun-tahun menjanda setelah suaminya meninggal dunia. Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi untuk memperbaiki rumahnya.

“Untuk makan sehari-hari saja masih kesulitan,” tutur Inak Haeriah lirih.

Untuk bertahan hidup, ia hanya mengandalkan penghasilan dari membuat anyaman ingke (wadah tradisional), dengan hasil produksi sekitar 1–2 buah per hari. Upah yang diterima pun sangat kecil, berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per buah.

Ia memiliki anak yang telah menikah, namun kondisi ekonomi anak dan menantunya juga serba kekurangan. Sang menantu bekerja sebagai buruh harian lepas, tanpa penghasilan tetap.

Melihat langsung kondisi tersebut, Sahabudi mengaku sangat terharu dan prihatin. Ia menilai kondisi rumah Inak Haeriah sudah tidak layak huni dan membutuhkan penanganan segera.

“Ini kondisi yang sangat memprihatinkan dan sudah seharusnya mendapat perhatian serius. Kami berharap pemerintah daerah, Baznas, Dinas Sosial, dan Dinas PUPR bisa segera turun tangan memberikan bantuan rumah layak huni,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Ruslan, Ketua RT setempat. Ia membenarkan bahwa warganya telah lama menempati rumah darurat tersebut.

“Kami sangat berharap, khususnya kepada Bapak Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ) dan Ibu Wakil Bupati Hj. Nurul Adha (UNA), bisa melihat langsung kondisi rumah warga kami ini,” harapnya.

Di lokasi yang sama, Misniawati, menantu Inak Haeriah, tak mampu menahan haru saat menceritakan kondisi keluarganya. Dengan mata berkaca-kaca, ia berharap adanya perhatian nyata dari pemerintah.

“Kami sangat berharap bisa dibantu dan diberikan tempat tinggal yang layak. Kami berharap Bapak Bupati dan Ibu Wakil Bupati bisa hadir langsung ke gubuk kami,” ucapnya sambil menahan tangis.

Misniawati saat ini memiliki satu orang anak, serta masih menanggung adik kandungnya yang duduk di bangku SMP, yang menjadi tanggung jawab dirinya dan sang suami.

Sementara itu, Kepala Desa Kuripan Selatan, Satriawan,membenarkan kondisi warganya tersebut. Ia menegaskan bahwa Inak Haeriah termasuk dalam Desil 1 dan masuk kategori miskin ekstrem.

“Warga kami ini masuk kategori miskin ekstrem. Bahkan bukan hanya dua kepala keluarga, berdasarkan data sementara desa terdapat sekitar 15 KK dengan kondisi serupa yang juga membutuhkan perhatian,” ungkapnya.

Ia berharap adanya sinergi antara pemerintah desa, kabupaten, dan instansi terkait agar penanganan kemiskinan ekstrem di wilayahnya dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Khairunnisa Qariah Asal Bima Juara 1 MTQ Nasional XXXI, NTB Naik ke Peringkat 9
PPK UIN Mataram Tegaskan Proyek Laboratorium Kedokteran Tetap Berjalan, “Tidak Ada Subkon”
Dari 6 Meter Menjadi 10,5 Meter, Wajah Baru Ruas Jereweh-Benete Usai Ditangani
FORMAL Resmi Lahir Pasca OTT Bupati Lobar, Media Bersatu Tolak Praktik Pilih Kasih dan Pengkotakan Pers
Bulog NTB Terima Aspirasi Massa, Tegaskan Transparansi serta Dukung Penegakan Hukum Kasus Beras Oplosan
BPS Catat NTP NTB Naik Jadi 130,44, Daya Beli Petani Menguat
Detik-detik Mencekam Atap SMAN 7 Mataram Roboh: Siswa Panik Berhamburan, 5 Orang Terluka
Sukses Gelar Pelepasan 203 Siswa Terbaiknya di UIN Mataram, MAN Lobar Buktikan Kualitas Madrasah Unggulan

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 13:27 WITA

Regulasi Baru Kemenag Terbit, MAN Lombok Barat Perkuat Pembatasan HP Siswa

Rabu, 23 September 2026 - 09:19 WITA

Komisi I DPRD Lobar Apresiasi Kenaikan Penghasilan Guru PPPK Paruh Waktu, Pemkab Siapkan Rp11 Miliar

Rabu, 23 September 2026 - 05:50 WITA

MAN Lombok Barat Terobos Batas Apresiasi: Ketua dan Wakil Ketua OSIS Terpilih Raih Beasiswa Komite

Senin, 21 September 2026 - 20:19 WITA

Estafet Kepemimpinan ORSIMA MAN Lobar Berlanjut, Kepala Madrasah Tekankan Inovasi dan Aksi Nyata

Sabtu, 19 September 2026 - 08:58 WITA

MAN Lombok Barat Gelar Pesta Demokrasi, Tiga Paslon Berebut Amanah Pimpin ORSIMA

Kamis, 17 September 2026 - 05:17 WITA

Sumbangan Dipatok Rp150 Ribu Dipersoalkan Wali Murid, SMAN 1 Narmada Tegaskan Tak Ada Paksaan

Selasa, 15 September 2026 - 12:33 WITA

Guru MAN Lombok Barat Didorong Adaptif, UNRAM Dampingi Implementasi CEFR dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Senin, 14 September 2026 - 00:43 WITA

Dua Siswa MAN Lombok Barat Melaju ke OMI Tingkat Provinsi 2026

Berita Terbaru

Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha (UNA), memberikan keterangan kepada sejumlah awak media seusai menghadiri rapat paripurna di DPRD Lombok Barat, Selasa (29/9/2026).(Foto: Halo NTB/Taufik).

Pemerintahan

Tiga Besar Calon Sekda Lombok Barat Segera Dipanggil Wabup UNA

Rabu, 30 Sep 2026 - 10:12 WITA