Lombok Barat,Halontb.com — Potret kemiskinan ekstrem masih nyata di Kabupaten Lombok Barat. Seorang janda lanjut usia, Inak (Ibu) Aeriah, warga Dusun Aik Jambe RT 01, Desa Kuripan Selatan, Kecamatan Kuripan, terpaksa bertahan hidup bersama delapan anggota keluarganya di sebuah gubuk reot berdinding terpal dan rangka bambu yang jauh dari kata layak huni.
Kondisi memprihatinkan itu terungkap setelah tokoh masyarakat Kuripan Selatan, Sahabudi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD), menerima laporan dari warga sekitar. Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Jurnalis Online Indonesia (JOIN) NTB turun langsung ke lokasi pada Senin (27/1/2026) untuk melihat secara langsung kondisi tempat tinggal keluarga tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan, gubuk yang ditempati Inak Haeriah berdiri di atas tanah tanpa pondasi permanen. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu (bedek) kemudian di lapis terpal plastik bekas dan karung, sebagian sobek dan mulai rapuh. Atapnya menggunakan terpal hitam tipis yang ditopang batang kayu hutan seadanya, sehingga sangat rawan bocor saat hujan dan tidak mampu menahan panas maupun angin kencang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagian dalam rumah tampak sempit, gelap, dan lembap. Lantai masih berupa bilah bambu dan tanah, dialasi tikar lusuh serta karpet tipis. Tidak terdapat sekat permanen antara ruang tidur, dapur, dan ruang keluarga. Perabotan rumah tangga sangat terbatas, sebuah lemari kayu tua berisi pakaian, beberapa ember plastik, serta peralatan dapur sederhana.
Fasilitas sanitasi di lokasi tersebut sangat jauh dari kata layak. Untuk keperluan mandi dan cuci, keluarga ini hanya mengandalkan bilik terbuka yang disekat terpal lusuh dan kain batik tua. Tragisnya, karena letak rumah yang berada di perbukitan, mereka harus menempuh perjalanan jauh menurun lembah hanya untuk mendapatkan air bersih
Instalasi listrik pun tampak sangat sederhana dan berisiko, hanya mengandalkan kabel menggantung tanpa pelindung memadai. Kondisi tersebut dinilai berbahaya, terutama bagi anak-anak yang tinggal di dalamnya.
Inak Aeriah diketahui telah bertahun-tahun menjanda setelah suaminya meninggal dunia. Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi untuk memperbaiki rumahnya.
“Untuk makan sehari-hari saja masih kesulitan,” tutur Inak Haeriah lirih.
Untuk bertahan hidup, ia hanya mengandalkan penghasilan dari membuat anyaman ingke (wadah tradisional), dengan hasil produksi sekitar 1–2 buah per hari. Upah yang diterima pun sangat kecil, berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per buah.
Ia memiliki anak yang telah menikah, namun kondisi ekonomi anak dan menantunya juga serba kekurangan. Sang menantu bekerja sebagai buruh harian lepas, tanpa penghasilan tetap.
Melihat langsung kondisi tersebut, Sahabudi mengaku sangat terharu dan prihatin. Ia menilai kondisi rumah Inak Haeriah sudah tidak layak huni dan membutuhkan penanganan segera.
“Ini kondisi yang sangat memprihatinkan dan sudah seharusnya mendapat perhatian serius. Kami berharap pemerintah daerah, Baznas, Dinas Sosial, dan Dinas PUPR bisa segera turun tangan memberikan bantuan rumah layak huni,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ruslan, Ketua RT setempat. Ia membenarkan bahwa warganya telah lama menempati rumah darurat tersebut.
“Kami sangat berharap, khususnya kepada Bapak Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ) dan Ibu Wakil Bupati Hj. Nurul Adha (UNA), bisa melihat langsung kondisi rumah warga kami ini,” harapnya.
Di lokasi yang sama, Misniawati, menantu Inak Haeriah, tak mampu menahan haru saat menceritakan kondisi keluarganya. Dengan mata berkaca-kaca, ia berharap adanya perhatian nyata dari pemerintah.
“Kami sangat berharap bisa dibantu dan diberikan tempat tinggal yang layak. Kami berharap Bapak Bupati dan Ibu Wakil Bupati bisa hadir langsung ke gubuk kami,” ucapnya sambil menahan tangis.
Misniawati saat ini memiliki satu orang anak, serta masih menanggung adik kandungnya yang duduk di bangku SMP, yang menjadi tanggung jawab dirinya dan sang suami.
Sementara itu, Kepala Desa Kuripan Selatan, Satriawan,membenarkan kondisi warganya tersebut. Ia menegaskan bahwa Inak Haeriah termasuk dalam Desil 1 dan masuk kategori miskin ekstrem.
“Warga kami ini masuk kategori miskin ekstrem. Bahkan bukan hanya dua kepala keluarga, berdasarkan data sementara desa terdapat sekitar 15 KK dengan kondisi serupa yang juga membutuhkan perhatian,” ungkapnya.
Ia berharap adanya sinergi antara pemerintah desa, kabupaten, dan instansi terkait agar penanganan kemiskinan ekstrem di wilayahnya dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.







