Home / NTB

Kisruh Penutupan SPPG Montong Are 2: Kepala SPPG Sebut Anggaran Belum Turun, Yayasan Agniya Bantah Saldo Masih Rp297 Juta

- Wartawan

Kamis, 30 Oktober 2025 - 10:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Yayasan Agniya Pagutan Timur, Hariyanto (kiri), meninjau fasilitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montong Are 2 yang sempat ditutup mendadak, didampingi Kepala SPPG Montong Are 2. (Foto: Istimewa)

Ketua Yayasan Agniya Pagutan Timur, Hariyanto (kiri), meninjau fasilitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montong Are 2 yang sempat ditutup mendadak, didampingi Kepala SPPG Montong Are 2. (Foto: Istimewa)

Halontb.com – Polemik penutupan mendadak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Montong Are 2, salah satu dapur layanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG), terus bergulir.

Yayasan Agniya Pagutan Timur selaku mitra pelaksana menilai penutupan itu dilakukan tanpa izin resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara administratif.

“Pertanyaan sederhananya, sejauh itukah kewenangan SPPI hingga bisa menutup satuan layanan tanpa sepengetahuan BGN?” ujar Ketua Yayasan Agniya, Hariyanto, kepada wartawan, Kamis (30/10/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, Yayasan telah menyampaikan surat resmi ke BGN RI untuk meminta evaluasi dan penggantian Kepala SPPG Montong Are 2, setelah menemukan sejumlah pelanggaran dan indikasi penyimpangan prosedur di lapangan.

Temuan Fatal dalam Evaluasi Yayasan

Dalam laporan internal Yayasan Agniya, ditemukan sejumlah pelanggaran, di antaranya penggunaan bahan makanan sisa dua hari sebelumnya yang hasil uji laboratoriumnya positif mengandung bakteri, penggunaan celana pendek saat menerima tamu dinas, serta kurangnya kontrol terhadap kualitas bahan baku.

“Yang paling mengkhawatirkan itu penggunaan bahan makanan sisa. Padahal ahli gizi sudah menyiapkan menu segar sesuai standar,” jelas Hariyanto.

Selain itu, penyaluran makanan untuk kategori 3B disebut tidak dilakukan dengan alasan tidak ada food tray, padahal data menunjukkan stok masih mencukupi.

“Ini bukan sekadar administrasi, tapi sudah menyangkut hak penerima manfaat,” ujarnya tegas.

Pernyataan Kepala SPPG Montong Are 2

Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Montong Are 2, Lalu Den Nune Ali, mengakui bahwa layanan memang dihentikan sementara. Ia menyebut keputusan itu diambil karena anggaran dari pusat belum turun, sehingga operasional tidak bisa dilanjutkan.

“Anggaran dari pusat belum turun, jadi tidak ada dana untuk beroperasi,” ujar Lalu Den Nune Ali saat dikonfirmasi.

Ia menambahkan bahwa pihak pusat sudah mengetahui kondisi tersebut. “Orang pusat sudah tahu,” katanya singkat sebelum menutup sambungan telepon.

Yayasan Agniya Bantah Alasan Anggaran

Namun pernyataan tersebut dibantah langsung oleh Ketua Yayasan Agniya. Menurut Hariyanto, tidak pernah disebut adanya kendala anggaran sebagai alasan penutupan. Ia bahkan menegaskan bahwa saldo rekening virtual (VA) SPPG Montong Are 2 masih sekitar Rp297.730.000.

“Sama sekali tidak ada disebut anggaran sebagai alasan penutupan, karena saldo VA SPPG Montong Are 2 masih kurang lebih Rp297 juta,” tegas Hariyanto.

“Dalam surat edaran yang dikirim lewat WhatsApp ke yayasan dan ke sekolah, tidak ada alasan soal anggaran. Yang disebut hanya masalah administrasi,” tambahnya.

Hariyanto menilai alasan yang disampaikan Kepala SPPG tidak sesuai dengan fakta lapangan dan berpotensi menyesatkan publik.

“Kalau alasan administratif, itu bisa diselesaikan tanpa harus menutup layanan. Tapi kalau dalihnya anggaran, itu jelas tidak benar, karena dana masih tersedia,” ujarnya.

Menanti Langkah Tegas dari BGN

Yayasan Agniya berharap Badan Gizi Nasional segera turun tangan untuk meninjau kondisi di lapangan dan memastikan layanan gizi untuk anak-anak tetap berjalan.

“Yang paling penting, anak-anak penerima manfaat jangan jadi korban dari kisruh administratif,” kata Hariyanto.

“Program MBG ini harus tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok,” tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Badan Gizi Nasional (BGN) belum memberikan keterangan resmi terkait persoalan tersebut.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polemik Mesin Masaro Lobar Memanas: DPRD Endus Kejanggalan Anggaran BTT, Kasta NTB Desak APH Turun Tangan
Hearing Publik: PPS Desak Kemenhaj NTB Sanksi Tegas Travel Nakal Buntut Jamaah Umrah Terlantar
Waspada! Penipuan Berkedok Pembaruan Data Haji, Kemenhaj Lobar Imbau Jemaah Tidak Mudah Percaya
Viral Protes Pajak Parkir di Batu Bolong, Begini Penjelasan Bapenda Lobar!
Dari Desa hingga Nasional, Setahun Haerul Warisin Dinilai Sukses Ubah Wajah Lombok Timur
Dari Ka’bah ke Ketidakpastian: Jamaah Umroh NTB Jadi Korban, Negara Ditantang Bertindak
Arus Balik H+4 Lebaran 2026: Penumpang Lembar–Padangbai Melandai, ASDP Siaga Antisipasi Lonjakan Akhir Pekan
LPK ARK Jinzai Solusi Group Bidik 1.000 Slot ke Jepang: Tak Sekadar Kirim Kerja, Tapi Ubah Nasib Lewat Bahasa

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 15:19 WITA

Naik Drastis! Jumlah Kendaraan di Pelabuhan Lembar Melonjak Hingga 40 Persen

Sabtu, 28 Maret 2026 - 04:44 WITA

KUR Nol Persen di Depan Mata, Bank NTB Syariah Siapkan Layanan Cepat dan Terintegrasi

Jumat, 27 Maret 2026 - 04:35 WITA

NTB Terang Benderang di Hari Raya, Cadangan Listrik Aman, PLN Panen Apresiasi

Rabu, 25 Maret 2026 - 01:39 WITA

SPKLU Kian Masif, Mudik Ramah Lingkungan Jadi Tren Baru di NTB

Minggu, 22 Maret 2026 - 01:30 WITA

45 SPKLU Disiagakan PLN NTB, Mudik Kendaraan Listrik Kini Lebih Tenang dan Terjamin

Sabtu, 21 Maret 2026 - 01:23 WITA

Idulfitri Tanpa Kedip Listrik, PLN NTB Jamin Pasokan Stabil Saat Salat Id

Jumat, 20 Maret 2026 - 01:14 WITA

Takbiran Penuh Cahaya di Mataram, PLN Pastikan Listrik Stabil di Tengah Lonjakan Aktivitas

Selasa, 17 Maret 2026 - 07:06 WITA

Bank NTB Syariah, Pertumbuhan Nyata Tertutup Beban Sementara

Berita Terbaru