LOMBOK BARAT, Halontb.com — Jembatan Bakong, akses vital yang menghubungkan dua Kecamatan yaitu Kecamatan Lembar dan Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, hingga kini masih dalam kondisi rusak parah setelah dihantam banjir bandang pada awal tahun 2025 lalu.
Sudah lebih dari satu tahun jembatan yang menjadi satu-satunya akses bagi ribuan warga Desa Kebon Ayu dan Desa Lembar itu tak kunjung diperbaiki, meski sempat ditinjau langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Kepala Dusun (Kadus) Kebon Ayu, Muhamad Yusuf, mengatakan kondisi jembatan yang berstatus jalan provinsi itu sebentar ya sudah tidak layak digunakan. Namun warga tetap terpaksa melintasinya karena tidak ada jalur alternatif lain yang memadai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tidak layak pakai. Tapi karena masyarakat ini tidak ada jalur alternatif yang lain, terutama yang dari dua desa, Kebon Ayu sama Desa Lembar Indah ini,” ujar Yusuf, Senin(10/8).
Baca juga: SK Tahunan Dipersoalkan, Ribuan Guru PPPK Lombok Barat Desak Kepastian Masa Kerja
Ia menjelaskan, pihaknya bersama warga sempat berinisiatif memasang pembatas di jembatan sebagai upaya antisipasi kecelakaan. Namun langkah itu dinilai belum cukup untuk menjamin keselamatan warga yang setiap hari melintas, termasuk para pemancing yang kerap beraktivitas hingga malam hari di sekitar jembatan.
Kerusakan pada bagian tengah jembatan, menurut Yusuf, terjadi karena pondasi tengah tidak mampu menahan debit air saat banjir bandang menerjang awal tahun lalu. Kondisi itu membuat warga semakin waswas, terutama menjelang musim hujan yang berpotensi kembali memicu banjir di lokasi tersebut.
“Sial itu enggak ada di kalender. Takutnya kita nanti terjadi apa-apa pas dia lewat, dia tiba-tiba ambruk, terutama menjelang musim hujan,” katanya.
Baca juga: Jalan Penghubung di Gerung Amblas, Kades Sudirman: Padahal Baru Dua Bulan jadi!
Yusuf mengungkapkan, sekitar satu tahun lalu Menteri PUPR sempat meninjau langsung kondisi Jembatan Bakong, bersamaan dengan kunjungan kerja peninjauan Sekolah Rakyat di Kuripan. Saat itu, kunjungan tersebut didampingi langsung oleh almarhum Kepala Desa Kebon Ayu dan Kepala Desa Lembar.
Perbaikan jembatan sempat dijadwalkan berlangsung sekitar Desember tahun lalu. Namun rencana itu urung terealisasi diduga karena kendala anggaran. Sekitar dua bulan terakhir, tim dari pemerintah pusat memang telah melakukan pengeboran untuk mengukur kedalaman tanah di lokasi jembatan sebagai bagian dari tahap perencanaan perbaikan.
“Harapan kami paling tidak tahun depan lah bisa diperbaiki terkait dengan jembatan Bakong ini,” ujar Yusuf.
Baca juga: Jembatan Sekotong Amblas: Akses Utama 4 Desa Terancam, Kades Desak Pemerintah Segera Bertindak
Menurut Yusuf, jembatan tersebut merupakan urat nadi perekonomian bagi warga dua desa. Setiap hari, diperkirakan lebih dari 500 orang melintasi jembatan itu untuk berbagai keperluan, mulai dari aktivitas jual beli ke pasar hingga dahulu digunakan sebagai jalur angkutan menuju Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Namun sejak jembatan ambruk, angkutan batu bara menuju dermaga PLTU tidak lagi melalui jalur tersebut.
Dampak kerusakan jembatan juga dirasakan di sektor pendidikan. Yusuf menyebut sejumlah orang tua kini enggan menyekolahkan anaknya di SMP 3 Gerung karena khawatir dengan risiko keselamatan saat melintasi jembatan yang rawan ambruk. Alternatif lain, yakni memutar lewat Jembatan Kembar, dinilai terlalu jauh sehingga banyak anak yang akhirnya memilih tidak melanjutkan sekolah di sana.
“Akses pendidikan terdampak sekali. Sempat kita cari murid itu, jadi perkataan orang tua mereka takut. Nanti jembatannya roboh, terlalu jauh mereka untuk ambil jalan alternatif karena dia harus lewat jembatan kembar. Itu penyebabnya sekarang muridnya berkurang,” jelasnya.
Di akhir keterangannya, Yusuf, mewakili warga Desa Kebon Ayu dan Desa Lembar, berharap pemerintah pusat maupun provinsi dapat segera merealisasikan perbaikan Jembatan Bakong. Ia menegaskan jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses warga untuk mencari nafkah maupun menempuh pendidikan antara dua wilayah kecamatan.
“Ya, terakhir harapan kami sebagai warga, jadi mewakili warga dua desa ini, Kebon Ayu sama Lembar ini, ya segeralah,” pungkasnya










