Sikap yang ditunjukkan politisi kharismatik Bumi Gora itu dinilai sangat berpegang teguh pada semangat kemanusiaan. Ia mengeliminasi perbedaan pandangan keberagamaan. Ia rajut itu dalam semangat kebhinekaan yang memiliki kesamaan hak sebagai anak bangsa.
“Ketika tokoh kita membangun masjid, pesantren, itu biasa. Tetapi ketika ada orang muslim membangun tempat peribadatan bagi orang Hindu, Nasrani, kita tidak salah mengatakan bahwa beliau sangat pluralis,” ujarnya.
Dengan sikap konsisten itu, anggota DPRD NTB itu mengaku tak salah jika dirinya memberikan label “Bapak Pluralisme NTB” kepada H Rachmat Hidayat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Maka saya berkesimpulan orang ini saya nobatkan sebagai Bapak Pluralisme NTB. Dari hasil kinerjanya, sangat paham keberagaman. Kalau Gus Dur Bapak Pluralisme Indonesia, Rachmat Hidayat yang Bapak Pluralisme di NTB,” bebernya.
“Saya ini tokoh NU, saya melihat bahwa seorang H Rachmat Hidayat sangat layak menjadi panutan kita. Baik dari sisi perilaku dan ketokohan (senioritasnya). Cocok jadi Bapak bangsa kita di NTB,” sambungnya.







