LOMBOK TENGAH, Halontb.com – Sebanyak 352 siswa berasal dari sejumlah sekolah di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (11/9/2026). Para korban terpaksa dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Berdasarkan laporan sementara dari Tim Surveilans Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah hingga pukul 12.30 WITA, gejala keracunan mulai muncul sekitar satu jam setelah para siswa menyantap makanan tersebut. Gejala yang dilaporkan meliputi pusing, mual, muntah, nyeri mulut dan perut, lemas, sesak napas, serta diare.
Baca juga: Kasus Aborsi Ilegal di NTB, Izin Praktik Dokter Dicabut dan Rumah Sakit Kena Sanksi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk menampung lonjakan pasien, penanganan medis disebar ke empat fasilitas kesehatan terdekat dengan rincian sebagai berikut:
• Puskesmas Pringgarata: 142 korban
• Puskesmas Aik Darek: 124 korban
• Puskesmas Mantang: 67 korban
• Puskesmas Bagu: 17 korban
Insiden ini bermula ketika Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu, yang berada di bawah naungan Yayasan Budi Sain Mangkling, mendistribusikan paket MBG ke sejumlah sekolah penerima manfaat. Pengantaran makanan dilakukan pada pukul 08.15 WITA dan dibagikan kepada siswa sekitar pukul 09.00 WITA.
Menu yang disajikan pada hari kejadian terdiri dari nasi, ayam goreng tepung, sayur, menu cacah, serta roti canai atau sejenisnya sebagai pelengkap. Rentang waktu kemunculan gejala tercatat antara pukul 09.10 hingga 12.15 WITA.
Baca juga: Polda NTB Hadirkan Solusi Cepat Krisis Air Gili Trawangan, Distribusi Kembali Normal
Kapolresta Lombok Tengah, Kombes Pol Heriyanto, mengonfirmasi bahwa setidaknya ada tiga sekolah yang terdampak dalam peristiwa ini. Saat ini, tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Lombok Tengah telah turun tangan untuk menyelidiki penyebab awal keracunan.
“Dari data awal ada tiga sekolah dan siswanya ini sudah dibawa ke empat puskesmas yang berbeda,” ujarnya, Jumat (11/9).
Heriyanto menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) bagi penyedia layanan makanan. Ia mengimbau seluruh pihak SPPG di Lombok Tengah untuk memperketat pengawasan kualitas bahan baku, proses pengolahan, hingga jalur pendistribusian guna mencegah terulangnya insiden serupa.
“Dengan kejadian ini kita juga imbau yang jelas para SPPG ini menjalankan SOP dan segala aturan yang ada,” tegasnya.
Baca juga: Senator NTB Ustaz Farabi: P3K Masalah Nasional, DPD RI Kawal Penyelesaian Beban Fiskal Daerah
Investigasi Epidemiologi Berlanjut
Sementara itu, Tim Surveilans dari empat puskesmas terkait bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah masih melakukan investigasi epidemiologi mendalam. Fokus utama penyelidikan adalah mengidentifikasi komponen menu mana yang menjadi sumber kontaminasi utama.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah menyatakan bahwa angka 352 korban masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan pemantauan lanjutan. Hingga berita ini diturunkan, status kesehatan sebagian besar korban terpantau stabil, meskipun beberapa masih dalam observasi ketat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Masyarakat dan orang tua siswa dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas kesehatan setempat. Update terbaru mengenai hasil laboratorium dan kesimpulan akhir investigasi akan diumumkan oleh pihak berwenang dalam waktu dekat.








