LOMBOK BARAT, Halontb.com – Suasana duka menyelimuti keluarga besar SMKN 1 Gerung, Kabupaten Lombok Barat, setelah salah seorang siswinya, Putri Salsabila (16), meninggal dunia akibat terseret ombak saat berada di kawasan Pantai Semeti, Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, Minggu (2/8/2026).
Korban yang merupakan siswi kelas X Program Keahlian Desain Produksi Busana (DPB) itu dilaporkan terseret ombak ketika berada di atas tebing pantai untuk berswafoto. Peristiwa tragis tersebut meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh civitas akademika SMKN 1 Gerung.
Baca juga: Tragedi Selfie di Pantai Semeti: Empat Wisatawan Terjatuh dari Tebing, Satu Tewas Terseret Ombak
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhumah, pihak sekolah langsung menggelar doa bersama pada Senin (3/8/2026) pagi. Kegiatan diawali dengan pelaksanaan upacara bendera yang kemudian dilanjutkan doa bersama untuk mendoakan almarhumah sekaligus memohon keselamatan seluruh peserta didik.
Kepala SMKN 1 Gerung melalui Wakil Kepala SMKN 1 Gerung Bidang Hubungan Masyarakat (Waka Humas), Novan Hardi, mengatakan pihak sekolah sangat terpukul atas musibah yang menimpa salah seorang siswanya.
“Kami sangat prihatin dan berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya siswi kami. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Novan, Selasa (4/8).
Baca juga: Tenggang Waktu Menipis, DPRD Lombok Barat Desak Pemda Tuntaskan Status 31 Honorer Sebelum Desember
Menurut Novan, begitu menerima informasi dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan mengenai kabar duka tersebut, Kepala SMKN 1 Gerung langsung menginstruksikan seluruh jajaran sekolah untuk melakukan kunjungan belasungkawa ke rumah keluarga korban.
Rombongan yang terdiri atas Kepala Sekolah, tenaga kependidikan, Komite Sekolah, perwakilan guru, serta pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) berangkat menggunakan bus sekolah menuju rumah duka di Dusun Kambeng, Desa Sekotong Timur, Kabupaten Lombok Barat.
Baca juga: Polresta Mataram Gelar 44 Adegan Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Mahasiswi Unram
Namun perjalanan tidak berlangsung mudah. Akses menuju rumah korban terputus sehingga rombongan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tiba di lokasi.
“Saat sampai di rumah duka, kami bertemu kedua orang tua almarhumah. Kebetulan ibunya yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita sedang berada di rumah. Kami kemudian ikut menyalatkan jenazah bersama warga sebelum prosesi pemakaman berlangsung,” tutur Novan.

Dalam kesempatan tersebut, pihak sekolah juga menyerahkan santunan kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian. Bantuan berasal dari dana sekolah dan Komite Sekolah, serta sumbangan sukarela dari para siswa kelas X dan XI yang terkumpul lebih dari Rp1 juta.
Novan menjelaskan, siswa kelas XII tidak ikut dalam penggalangan dana karena sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di berbagai perusahaan dan instansi.
Pihak sekolah mengungkapkan bahwa Putri Salsabila merupakan peserta didik baru yang belum lama bergabung di SMKN 1 Gerung. Ia baru menyelesaikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada pertengahan Juli 2026 dan mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar secara reguler sejak 21 Juli 2026.
“Baru sekitar dua hingga tiga minggu almarhumah aktif belajar di sekolah. Karena masih baru, kami belum begitu mengenal kesehariannya. Namun kesan awal yang kami tangkap, Putri adalah anak yang baik,” kata Novan.
Baca juga: Kembalikan Figur Ayah di Sekolah, SMKN 1 Gerung Jadi Pelopor Gerakan GEMAR di NTB
Putri diketahui merupakan warga Dusun Kambeng, Desa Sekotong Timur, Lombok Barat. Selama menempuh pendidikan di SMKN 1 Gerung, ia tinggal bersama neneknya di Kecamatan Kuripan agar lebih dekat dengan lokasi sekolah.

Kepergian Putri juga menyisakan kesedihan bagi teman-teman sekelasnya. Salah seorang rekan sekelas di kelas X DPB, Adelia, mengenang almarhumah sebagai pribadi yang pendiam namun ramah dan mudah bergaul.
Menurut Adelia, sebelum kejadian tidak ada tanda-tanda yang mengarah pada musibah tersebut. Putri hanya sempat bercerita bahwa dirinya akan pergi ke Pantai Semeti bersama bibinya dan pasangan bibinya.
“Dia bilang mau ke pantai sama bibinya bertiga saja. Tidak ada rencana mengajak teman-teman sekolah,” ujar Adelia.
Baca juga: Disorot Pungli, SMKN 3 Mataram Tunjukkan Transparansi: Dana Sumbangan Sukarela, Bukan Iuran Wajib
Ia juga masih mengingat pertemuan terakhir mereka pada Sabtu (1/8/2026), sehari sebelum peristiwa nahas terjadi. Saat itu Putri tampak seperti biasa, tetap ceria meski tidak banyak berbicara.
“Hari itu wajahnya terlihat sangat bersih dan bersinar. Dia memang pendiam, tapi tetap tertawa bersama teman-teman. Tidak ada pesan terakhir atau tanda-tanda yang berbeda melalui chat WhatsApp,” kenangnya.
Baca juga: Harumkan Nama NTB, Tiga Siswa MAN Lombok Barat Raih Medali di Masmirah Championship 2026
Peristiwa tersebut menjadi pengingat penting akan besarnya risiko keselamatan di kawasan wisata alam, khususnya pantai dengan karakter ombak besar dan tebing curam.
Menyikapi kejadian itu, SMKN 1 Gerung kembali mengimbau seluruh peserta didik agar selalu mengutamakan aspek keselamatan saat berwisata maupun melakukan aktivitas di alam terbuka.
Baca juga: Wakil Bupati Lombok Barat Tinjau MTs Nujumul Huda Terbakar, Pemda Siapkan Bantuan Rehabilitasi
Pihak sekolah berharap tragedi yang menimpa Putri Salsabila dapat menjadi pelajaran bagi seluruh pelajar dan masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi bahaya di kawasan wisata, sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.
Jenazah Putri Salsabila telah dimakamkan secara Islam di kampung halamannya di Dusun Kambeng, Desa Sekotong Timur. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, para guru, dan seluruh keluarga besar SMKN 1 Gerung yang baru saja menyambutnya sebagai bagian dari sekolah.










