LOMBOK BARAT, Halontb.com – Ancaman keselamatan membayangi ratusan siswa dan tenaga pendidik di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi infrastruktur sekolah yang telah berdiri selama 22 tahun tersebut kini mengalami kerusakan fisik parah, khususnya pada lima ruang kelas yang dinyatakan dalam kategori rusak berat dan berpotensi ambruk sewaktu-waktu.
Pantauan media di lokasi menunjukkan kondisi bangunan yang sangat memprihatinkan. Di sejumlah ruang kelas, genteng banyak yang berjatuhan hingga membuat rangka atap terlihat jelas dari dalam ruangan. Plafon kelas tampak jebol, kaca jendela pecah berantakan, daun pintu masuk jebol tanpa penutup, serta lantai keramik yang retak parah di berbagai titik.
Baca juga: Polemik Tabungan Siswa SDN 5 Babussalam Berakhir, Seluruh Dana Dikembalikan Sebelum Tenggat Waktu
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini diperparah oleh struktur penopang atap di sisi selatan bangunan yang menggunakan rangka baja ringan. Rangka tersebut terlihat sudah berkarat parah namun masih harus menopang beban genteng beton, sehingga dinilai sangat rawan runtuh. Kebocoran menjadi momok menakutkan setiap kali musim penghujan tiba, yang dipastikan akan mengganggu kenyamanan dan keamanan proses belajar mengajar (KBM).
Persoalan kerusakan fisik diperburuk oleh ketimpangan signifikan antara jumlah rombongan belajar (rombel) dengan ketersediaan fasilitas. Pada Tahun Pelajaran 2026/2027, SMKN 1 Gerung menampung 33 rombel dengan total siswa lebih dari 1.000 orang. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 16 ruang kelas yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Artinya, sekolah masih mengalami defisit sebanyak 17 Ruang Kelas Baru (RKB). Untuk menyiasati kekurangan akut ini, pihak sekolah terpaksa melakukan langkah darurat dengan menyulap area parkir kendaraan menjadi dua ruang kelas tambahan. Ruang darurat tersebut hanya disekat seadanya menggunakan papan tripleks, jauh dari standar kenyamanan dan privasi yang ideal.

Kepala SMKN 1 Gerung, Hj. Erni Zuhara, menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat lagi mengambil risiko membiarkan siswa berada di ruangan yang kondisinya kritis.
“Prioritas utama kami adalah keselamatan anak-anak dan guru. Melihat kondisi yang ada, pada tahun pelajaran mendatang, kami memutuskan untuk tidak menggunakan lagi lima ruang kelas yang masuk kategori rusak berat tersebut,” ujar Erni saat dikonfirmasi, Rabu (1/7/2026).
Baca juga: Perangi Judol dan Pinjol Ilegal, Anggota DPRD NTB H. Suharto Gencarkan Sosialisasi Raperda
Erni menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah tim manajemen sekolah dan konsultan bangunan melakukan analisis mendalam. “Ada lima kelas di bagian selatan yang rusak berat, dan dua bagian gedung lain yang rusak sedang. Kami was-was, karena jika terjadi sesuatu, nyawa taruhannya,” tambahnya.

Usulan Rehabilitasi Masuk Tahun Ketiga
Upaya perbaikan sebenarnya telah digulirkan oleh pihak sekolah sejak lama. Erni mengungkapkan bahwa proposal rehabilitasi bangunan telah diajukan secara rutin setiap tahun sejak 2023. Pihak sekolah juga terus memperbarui data kerusakan melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan melakukan analisis ulang oleh konsultan ahli agar data yang diserahkan ke pemerintah tetap akurat.
“Ini adalah tahun ketiga kami mengusulkan proposal. Sebelumnya, kami belum mendapat giliran mungkin karena banyaknya sekolah di NTB yang juga mengajukan permohonan dengan tingkat kerusakan yang dianggap lebih parah,” ungkap Erni.
Baca juga: Polda NTB Tetapkan Pengelola LPK Ilegal jadi Tersangka TPPO, Raup Rp95 Juta dari Calon PMII
Meski demikian, ada sinyal positif dari pemerintah provinsi. Gubernur NTB tercatat telah melakukan tinjauan langsung ke lokasi pada 28 Februari lalu. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur memeriksa kondisi gedung rusak berat dan memerintahkan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) NTB sebelumnya untuk segera menindaklanjuti masalah tersebut.
“Alhamdulillah, Kepala Bidang SMK Dinas Dikbudpora juga sudah turun langsung membawa proposal kami untuk segera diajukan ke pusat. Kami sangat berharap, di tahun ketiga pengusulan ini, mimpi kami untuk mendapatkan fasilitas yang layak bisa terwujud,” harap Erni.
Hak Dasar Pendidikan yang Layak
Bagi Erni, pemenuhan sarana dan prasarana bukan sekadar persoalan fisik bangunan, melainkan bentuk pemenuhan hak dasar siswa untuk mendapatkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan sesuai standar. Ia optimis, dengan fasilitas yang memadai, kualitas lulusan SMKN 1 Gerung dapat meningkat dan lebih kompetitif di dunia kerja.
“Kami sangat berharap pemerintah segera memperhatikan sekolah kami. Ketika sarana prasarana terlengkapi sesuai Standar Nasional Pendidikan, maka kualitas layanan pendidikan akan meningkat. Ini demi masa depan anak-anak kami,” tutup Erni.











