LOMBOK BARAT, Halontb.com – Di tengah gempuran tantangan pendidikan global yang sering kali terlalu fokus pada pencapaian akademik kognitif, MAN Lombok Barat mengambil langkah berbeda. Madrasah ini secara serius mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai fondasi transformasi pembelajaran, menempatkan nilai spiritual dan personal sebagai ruh utama dalam proses pendidikan.
Langkah strategis ini dikukuhkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Transformasi Pembelajaran MAN Lombok Barat melalui Implementasi KBC untuk Mewujudkan Madrasah Unggul, Religius, Berprestasi, dan Mendunia”, yang digelar di aula setempat, Sabtu (12/9/2026).
Baca juga: MAN Lombok Barat Jadi Tuan Rumah Pembukaan OMI 2026, 755 Siswa Berkompetisi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh guru ini menghadirkan Dr. Abdul Hamid, S.Pd.I., M.Pd.I., Pengawas Bina MAN Lombok Barat sekaligus Ketua Pokjawas Kanwil Kemenag NTB, sebagai narasumber kunci. Kehadirannya membawa perspektif baru: bahwa cinta bukan sekadar slogan, melainkan metodologi pedagogis yang efektif.
Kepala MAN Lombok Barat, H. Kemas Burhan, S.Pd., M.Pd., dalam sambutan pembukaannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pengawas Bina yang diharapkan mampu memberi pencerahan sekaligus penguatan bagi para guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Ia menegaskan bahwa implementasi KBC tidak cukup dipahami sekadar sebagai konsep atau kebijakan kurikulum semata, melainkan harus terwujud dalam sikap, perilaku, dan proses pembelajaran sehari-hari.
“Kami berharap kehadiran Bapak Pengawas Bina, Dr. Abdul Hamid, dapat memberikan pencerahan kepada seluruh guru MAN Lombok Barat, khususnya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Nilai spiritual dan nilai personal dalam KBC harus kita pahami secara utuh agar dapat kita implementasikan dalam pembelajaran dan kehidupan di madrasah,” ujar Kemas Burhan.
Menurutnya, transformasi pembelajaran di madrasah menuntut perubahan cara pandang guru. Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga dituntut menjadi teladan dalam menanamkan nilai, membangun hubungan positif dengan peserta didik, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermakna.
“Madrasah unggul tidak hanya diukur dari prestasi akademiknya, tetapi juga dari karakter, akhlak, kedisiplinan, kepedulian, dan kualitas hubungan antarseluruh warga madrasah. Karena itu, implementasi KBC menjadi bagian penting dari ikhtiar kita untuk mewujudkan MAN Lombok Barat yang unggul, religius, berprestasi, dan mendunia,” lanjutnya.

Menariknya, sesi bimtek tidak berjalan satu arah. Dr. Abdul Hamid menggunakan pendekatan ARKA (Aktivitas, Refleksi, Konsepsi, dan Aplikasi) yang membuat suasana kelas menjadi dialogis dan reflektif. Melalui teknik brainstorming, para guru diajak menggali pengalaman nyata mereka di lapangan.
Dr. Abdul Hamid menjelaskan dua pilar utama dalam KBC:
1. Nilai Spiritual: Hubungan vertikal manusia dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW.
2. Nilai Personal: Hubungan horizontal berupa kecintaan terhadap diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan.
“Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar menambahkan kata cinta dalam perangkat pembelajaran. Yang lebih penting adalah bagaimana cinta itu menjadi ruh dalam proses pendidikan. Guru mengajar dengan cinta, peserta didik belajar dalam suasana yang penuh penghargaan, dan seluruh warga madrasah membangun hubungan yang saling memanusiakan,” tegas Dr. Abdul Hamid.
Baca juga: Harumkan Nama NTB, Tiga Siswa MAN Lombok Barat Raih Medali di Masmirah Championship 2026
Ia menekankan bahwa keteladanan guru adalah instrumen pendidikan paling kuat.
“Anak-anak kita datang ke madrasah dengan latar belakang, karakter, dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, pendekatan kita juga tidak bisa seragam. KBC mengajarkan kepada kita untuk melihat peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi, perasaan, kebutuhan, dan martabat yang harus dihargai,” katanya.
Respons positif datang dari para peserta. Lalu Hamidi, SS, salah seorang guru MAN Lombok Barat, mengakui bahwa pola bimtek yang interaktif mengajak guru berpikir dan merefleksikan praktik pembelajarannya, bukan sekadar menerima materi.
“Bimtek ini memberikan perspektif baru bagi kami sebagai guru. Selama ini nilai spiritual dan nilai personal sebenarnya sudah kita lakukan dalam pembelajaran, tetapi melalui kegiatan ini kami diajak untuk lebih sadar, terarah, dan sistematis dalam mengimplementasikannya sebagai bagian dari Kurikulum Berbasis Cinta,” ungkap Lalu Hamidi.
Menurutnya, pendekatan diskusi dan brainstorming dari narasumber membuat peserta lebih berani menyampaikan pengalaman dan persoalan di kelas.
“Yang menarik adalah kami tidak hanya diberi teori. Kami diajak mengungkapkan pengalaman, berdiskusi, kemudian mencari bagaimana nilai cinta itu dapat benar-benar hadir dalam pembelajaran. Ini sangat relevan dengan kebutuhan guru saat ini,” tambahnya.
Baca juga: Haniy, Siswi MAN Lombok Barat Raih Medali Perak pada Kejuaraan Pencak Silat Nasional 2026
Implementasi KBC di MAN Lombok Barat bukan tanpa tantangan. Namun, komitmen manajemen madrasah untuk menjadikan nilai-nilai spiritual dan personal sebagai budaya harian menunjukkan keseriusan institusi ini dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
Dengan guru yang kompeten secara pedagogik sekaligus kaya secara spiritual, MAN Lombok Barat berharap dapat melahirkan lulusan yang siap bersaing di kancah global tanpa kehilangan jati diri religiusnya.
Sebagaimana ditegaskan dalam tema kegiatan, tujuan akhirnya jelas: mewujudkan madrasah yang unggul, religius, berprestasi, dan mendunia. Dan semua itu dimulai dari ruang kelas, di mana cinta menjadi bahasa pengantar utama pembelajaran.








