Keluarga Korban Syok: Bos Debt Collector yang Brutal Kini Bisa Lebaran di Rumah

- Wartawan

Rabu, 2 April 2025 - 05:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para tersangka kasus penganiayaan di Sunset Land, Mataram, saat diamankan di Polresta Mataram sebelum akhirnya mendapatkan penangguhan penahanan. (Foto: Istimewa)

Para tersangka kasus penganiayaan di Sunset Land, Mataram, saat diamankan di Polresta Mataram sebelum akhirnya mendapatkan penangguhan penahanan. (Foto: Istimewa)

Halontb.com – Keputusan Polresta Mataram menangguhkan penahanan empat tersangka kasus penganiayaan terhadap pria berinisial BE di Sunset Land, Kota Mataram, menuai kritik tajam. Pasalnya, para pelaku sebelumnya sempat menjadi buronan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya berhasil ditangkap oleh tim Buser Polresta Mataram pada 10 Maret 2025. Namun, belum genap sebulan sejak ditahan, mereka kini kembali menghirup udara bebas.

Kuasa hukum korban, Dr. Irpan Suriadiata, mengaku heran dengan keputusan tersebut. Menurutnya, alasan klasik bahwa tersangka bersikap kooperatif tidak bisa diterima, mengingat mereka justru sempat melarikan diri dan harus dikejar oleh kepolisian.

“Ini sangat janggal! Mereka yang sebelumnya buron dan ditangkap dengan susah payah, tiba-tiba mendapatkan penangguhan. Sementara korban yang telah menderita luka fisik dan trauma, justru tidak mendapatkan keadilan yang seharusnya,” tegas Irpan saat ditemui, Senin (31/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, keputusan penangguhan ini juga mengejutkan pihak keluarga korban. Bukran, saudara korban, mengungkapkan rasa kecewa dan malu setelah mendengar kabar bahwa salah satu tersangka, Bandi, bisa berkumpul dengan keluarganya saat Lebaran.

“Kami baru tahu dari mertua kalau Bandi sudah bebas. Ini sungguh membuat kami malu, seolah kami sudah berdamai, padahal sama sekali tidak ada perdamaian. Korban masih menderita, tapi pelaku justru bisa bersenang-senang di rumah,” ujar Bukran dengan nada kecewa.

Kronologi Kekerasan yang Kejam

Kasus ini bermula dari ajakan makan malam yang berujung tragedi. Korban BE, yang baru saja selesai menghadiri rapat di Hotel Golden Palace, diajak oleh seorang perempuan berinisial R untuk makan bersama di Sunset Land, Jalan Lingkar Selatan, Mataram. R diketahui merupakan istri dari salah satu tersangka, S.

Tanpa disangka, setibanya di lokasi, korban justru diserang oleh S dan empat rekannya. BE dihajar bertubi-tubi dengan pukulan dan tendangan. Tak puas hanya menganiaya di tempat, para pelaku kemudian menculik korban dan membawanya ke kantor debt collector PT. LNI di Desa Mantang, Lombok Tengah. Di sana, korban kembali menjadi bulan-bulanan para tersangka hingga mengalami luka lebam serta luka sobek di beberapa bagian tubuhnya.

Merasa terancam dan mengalami luka serius, korban akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polresta Mataram. Namun, alih-alih mendapatkan keadilan, kini korban dan keluarganya justru harus menerima kenyataan pahit bahwa para pelaku telah kembali bebas sebelum kasus ini tuntas di meja hijau.

Diamnya Polresta Mataram

Hingga berita ini diterbitkan, Kasatreskrim Polresta Mataram belum memberikan tanggapan resmi terkait alasan penangguhan. Masyarakat pun bertanya-tanya, apakah ada tekanan atau kepentingan tertentu di balik keputusan ini?

Kasus ini menjadi ujian bagi kepolisian dalam menegakkan hukum secara adil dan transparan. Jika aparat tidak mampu memberikan kejelasan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap penegakan hukum akan semakin runtuh. Kini, sorotan tertuju pada Polresta Mataram, apakah mereka akan tetap membiarkan keputusan ini berjalan, atau justru menunjukkan keberpihakan pada keadilan bagi korban ?.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Koalisi Rakyat NTB Minta Kejati Usut Tuntas BPKAD, Tim Transisi, dan Anggota DPRD yang Belum Mengembalikan Dana
Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Perairan Tanjung Menangis
Puluhan Massa Gelar Aksi di Kejaksaan Negeri Sumbawa Barat, Sempat Blokade Jalan Bertong–Telaga
Ditpolairud Polda NTB Evakuasi Jenazah Tanpa Identitas dari Perairan Senggigi ke RS Bhayangkara
Kabar Bahagia! 1.149 Napi di Lombok Barat Diusulkan Dapat Remisi Idul Fitri, 6 Orang Langsung Bebas
Polda NTB Tetapkan Ketua Yayasan Ponpes di Lombok Tengah sebagai Tersangka Dugaan Tindak Pidana Kekerasan Seksual
Polda NTB Tetapkan Kabid PTK Dikbudpora Bima Sebagai Tersangka Pungli Tunjangan Guru
Dari Bima ke Tanjung Balai: Jejak Pelarian Koko Erwin Terhenti, Skandal Narkoba dan Dugaan “Setoran” Aparat Kian Terbuka

Berita Terkait

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:03 WITA

PLN UIW NTB Perkuat Kepedulian Sosial Ramadan, 1.200 Paket Sembako Murah Disalurkan di Sumbawa

Rabu, 11 Maret 2026 - 18:13 WITA

Pasokan Listrik Ramadan di Sumbawa Diperkuat, PLN Andalkan PLTMG Bima Unit 2

Selasa, 10 Maret 2026 - 18:07 WITA

Promo “Ramadan Terang, Lebaran Tenang” PLN Disambut Antusias, Ribuan Pelanggan NTB Ajukan Tambah Daya

Senin, 9 Maret 2026 - 17:57 WITA

Listrik Tetap Stabil di Tengah Ribuan Jamaah Harlah Nahdlatul Wathan, PLN Turunkan Personel dan Peralatan Siaga

Jumat, 6 Maret 2026 - 17:42 WITA

Spirit Ramadan, PLN UIW NTB Perkuat Solidaritas Sosial Lewat Program Berbagi di Lombok dan Sumbawa

Jumat, 6 Maret 2026 - 17:35 WITA

Sambut Ramadan dan Idulfitri, PLN UIW NTB Ajak Warga Manfaatkan Diskon Tambah Daya Lewat Aksi Berbagi Takjil

Jumat, 6 Maret 2026 - 05:09 WITA

Kampung Pande Besi Talwa di Ujung Senja, Tradisi Ratusan Tahun Terancam Mati karena Minim Perhatian Pemerintah

Kamis, 5 Maret 2026 - 17:26 WITA

PLN Siaga Penuh Amankan Pasokan Listrik Selama Agenda Lentera Ramadan di Bima

Berita Terbaru