Pembela PT Bliss Bongkar: JC Baru Azril Hanya Ubah BAP, Bukan Fakta Hukum

- Wartawan

Minggu, 14 September 2025 - 10:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penasihat hukum PT Bliss, M. Ihwan SH MH (Iwan Slank), menolak kesaksian Justice Collaborator Azril yang dianggap tidak memiliki landasan bukti hukum. (Foto: Istimewa)

Penasihat hukum PT Bliss, M. Ihwan SH MH (Iwan Slank), menolak kesaksian Justice Collaborator Azril yang dianggap tidak memiliki landasan bukti hukum. (Foto: Istimewa)

Halontb.com – Kasus dugaan korupsi mega proyek Lombok City Center (LCC) memasuki babak baru yang semakin panas. Lalu Azril Supandi, mantan Direktur PT Tripat, resmi dikabulkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai Justice Collaborator (JC). Status ini membuatnya berani membongkar praktik gelap di balik proyek prestisius yang kini berubah menjadi jerat hukum.

Dalam ruang khusus Kejati NTB, Sabtu (13/9), Azril berbicara lantang di hadapan JPU Hasan Basri. Ia mengaku sudah bulat untuk membuka semua fakta, bahkan menyeret nama mantan Bupati Lombok Barat, Zaini Aroni, yang diduga menikmati aliran dana proyek LCC.

“Keputusan ini saya ambil dengan penuh pertimbangan, istikharah, dan diskusi dengan keluarga. Tidak ada tekanan dari siapa pun. Ini ikhtiar saya untuk menebus kesalahan,” tegas Azril.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Azril mengurai kronologi sejak pertemuan makan malam di Senayan City, 27 Oktober 2013, bersama pihak manajemen LCC. Dari obrolan ringan soal penamaan proyek, lahirlah istilah Lombok City Center. Namun, di balik percakapan itu, muncul kalimat isyarat yang menurutnya menjadi pintu masuk dugaan suap.

“Pak Zaini sambil berjalan berkata: Ril, coba tanyain dong, apa buat kita. Permintaan itu saya teruskan ke pihak manajemen. Dari situ semuanya bergulir,” ungkapnya.

Menurut Azril, draft awal kerja sama sebenarnya menjanjikan porsi besar bagi PT Tripat: 10 persen dari mall, 20 persen hotel, 20 persen rumah sakit, 25 persen kapling ruko, hingga 3 persen dari penjualan tanah. Namun, dalam akta resmi, jatah itu dikerdilkan hanya 3 persen.

“Seharusnya Rp1 miliar dari 10 persen masuk ke PT Tripat. Faktanya, saya hanya terima Rp300 juta. Sisanya Rp700 juta dipisahkan untuk Pak Zaini. Itu jawaban dari ‘apa buat kita’ tadi,” beber Azril.

Ia juga mengaku menyerahkan uang tunai Rp1 miliar kepada Zaini secara bertahap. “Sehari setelah rapat finalisasi, saya membawa Rp800 juta ke Lombok. Uang itu saya serahkan langsung di pendopo Bupati. Tidak sepeser pun saya ambil,” ujarnya.

Keterangan ini dipandang JPU Hasan Basri sebagai kunci membongkar aktor utama kasus LCC. “Kesaksian JC ini kami harap memberi kontribusi besar bagi pembuktian perkara,” tegasnya.

Namun bantahan keras datang dari pihak kuasa hukum. M. Ihwan SH MH, atau yang dikenal sebagai Iwan Slank, penasihat hukum mantan Direktur PT Bliss Pembangunan Sejahtera, Isabel Tanihah, menilai pengakuan Azril lemah dan tanpa dasar hukum.

“Apa yang diungkap Azril dalam kapasitasnya sebagai JC ini tidak didukung oleh alat bukti sah, baik dokumen maupun saksi. Oleh sebab itu, pernyataannya soal adanya aliran dana tidak bisa dibuktikan secara hukum. Penyebutan nama Pak Bupati maupun pihak yang diklaim sebagai bagian dari LCC itu tidak sesuai fakta, karena orang yang disebutkan itu bukanlah bagian dari manajemen PT Bliss,” tegas Iwan.

Ia juga mempertanyakan proses pengabulan JC. “Seharusnya JC itu diajukan sejak penyelidikan atau penyidikan. Aneh jika baru disetujui setelah semua saksi dan ahli diperiksa. Ini hanya merubah BAP, tidak ada hal signifikan yang membuktikan adanya tindak pidana,” tambahnya.

Sebagai catatan, kasus ini berawal dari penyertaan modal Pemkab Lombok Barat ke PT Tripat, yang kemudian bekerja sama dengan PT Bliss Pembangunan Sejahtera. Aset daerah seluas 4,8 hektare dijadikan agunan ke Bank Sinarmas untuk memperoleh pinjaman Rp264 miliar demi pembangunan LCC. Namun tanpa batas waktu pelunasan, aset tersebut kini justru menimbulkan potensi kerugian negara hingga Rp38 miliar.

Kini, dengan adanya pengakuan JC yang menuai pro-kontra, bola panas kembali bergulir di meja hijau. Publik menanti, siapa sesungguhnya yang paling diuntungkan dari megaproyek bernilai ratusan miliar itu?

Facebook Comments Box

Editor : reza

Berita Terkait

Geger! Jenazah Tanpa Identitas Ditemukan di Bukit Lendang Luar, Basarnas Evakuasi Korban
Polisi Tetapkan Pimpinan Ponpes di Lombok Barat sebagai Tersangka Dugaan Pencabulan Santriwati
Dua Pria Diduga Pengedar Sabu Ditangkap di Gerung, 72,42 Gram Disita
Jelang MotoGP Mandalika, Polisi Patroli Jalur Logistik di Pelabuhan Lembar
LPA Mataram Ungkap Dugaan Modus Kekerasan Seksual di Ponpes Lombok Tengah, Korban Diduga Bertambah
Polda NTB Naikkan Kasus Dugaan Penyimpangan Anggaran PT Energi Selaparang ke Tahap Penyidikan
Lapas Lombok Barat Gandeng TNI-Polri dan BNN, Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine
Polisi Buru Penyebar Video Hoaks Pembakaran Dapur MBG di Lombok Tengah

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 01:42 WITA

Cerita Buruh Tani di NTB Antarkan Anak Raih Cita-cita Lewat Sekolah Rakyat

Senin, 2 November 2026 - 20:24 WITA

Munas IKA Unram Belum Digelar, Alumni Soroti Masa Jabatan Pengurus

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:59 WITA

Cinta Al-Qur’an Berbuah Prestasi, Siswa MAN Lombok Barat Borong Juara MTQH Gerung 2026

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:55 WITA

Salat Istisqa di MAN Lombok Barat, TGH Taufikurrahman Ajak Jamaah Perbanyak Istigfar

Jumat, 9 Oktober 2026 - 00:00 WITA

Gemilang! Lima Srikandi Karate MAN Lombok Barat Borong 5 Gelar di Bupati Cup V 2026

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:33 WITA

Jelang OMI NTB, 33 Juara OMI Lombok Barat Terima Reward dari Kemenag dan BAZNAS

Rabu, 30 September 2026 - 09:55 WITA

Kabar Baik, Pemkab Lobar Naikkan Kesejahteraan 1.448 PPPK Paruh Waktu, Ini Besarannya

Rabu, 23 September 2026 - 13:27 WITA

Regulasi Baru Kemenag Terbit, MAN Lombok Barat Perkuat Pembatasan HP Siswa

Berita Terbaru