Halontb.com-Dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lombok Tengah membuka kembali diskursus tentang tantangan besar dalam pelaksanaan program gizi berskala nasional. Di satu sisi, MBG menjadi harapan peningkatan kualitas gizi jutaan anak. Di sisi lain, kelalaian kecil dalam rantai produksi dapat berujung pada risiko kesehatan serius.
Sebanyak 38 siswa SD dan MI di Desa Darmaji dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG. Merespons hal tersebut, Ketua Satgas MBG NTB, H. Ahsanul Khalik, menyatakan bahwa keselamatan penerima manfaat merupakan garis merah yang tidak boleh dilanggar.
Satgas MBG NTB mengusulkan penutupan sementara dapur MBG pemasok menu guna membuka ruang investigasi menyeluruh. Pemeriksaan mencakup potensi kelalaian pemilihan bahan baku, standar sanitasi dapur, hingga kepatuhan terhadap prosedur pengolahan dan distribusi makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Semua aspek akan kami evaluasi. Mulai dari kebersihan alat, kualitas air, hingga alur limbah dapur. Tidak boleh ada celah yang membahayakan anak-anak,” tegasnya.
Program MBG di NTB hingga akhir 2025 telah menjangkau lebih dari 1,65 juta sasaran, mulai dari balita, pelajar, santri, hingga ibu hamil dan menyusui. Selain dampak gizi, program ini juga menyerap hampir 26 ribu tenaga kerja lokal, dengan rata-rata 40–45 orang terlibat di setiap SPPG.
Namun, besarnya skala program menuntut sistem pengawasan yang lebih ketat dan konsisten. Satgas MBG NTB menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi pembelajaran penting agar pelaksanaan MBG ke depan semakin profesional, aman, dan berkelanjutan.
“Program ini untuk masa depan generasi kita. Maka tidak ada kompromi terhadap kualitas dan keselamatan,” pungkas Aka.







