Halontb.com – Pemerintah Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, bekerja sama dengan Universitas Tarumanagara (Untar) Jakarta menggelar program pelayanan kesehatan gratis berskala nasional bagi masyarakat pada Kamis (22/1/2026).
Kegiatan bertajuk Metta Day ke-31 ini melibatkan sekitar 70 tenaga medis profesional dan mendapat sambutan luar biasa dari warga, dengan jumlah peserta diperkirakan menembus 1.000 orang.
Kepala Desa Giri Sasak, Hamdani, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat Universitas Tarumanagara yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan menjangkau berbagai wilayah di Indonesia secara bergilir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Program ini berskala nasional dan dilaksanakan bergantian di berbagai provinsi. Tahun ini NTB mendapat kesempatan, dan Desa Giri Sasak menjadi salah satu dari enam desa di NTB yang dipilih. Komunikasi sudah kami lakukan sejak 2025, dan Alhamdulillah baru bisa terlaksana pada Januari 2026,” ujar Hamdani di sela-sela kegiatan.
Ia menjelaskan, tujuan utama pelaksanaan program ini adalah membantu meringankan beban masyarakat, khususnya warga yang mengalami kendala kepesertaan BPJS Kesehatan yang tidak aktif secara tiba-tiba.
“Keluhan masyarakat terkait BPJS yang mati mendadak cukup banyak. Melalui program pengobatan gratis ini, kami berharap bisa membantu sekaligus mengobati kekecewaan masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses layanan kesehatan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Metta Day Base ke-31 menyediakan berbagai layanan medis gratis, mulai dari pemeriksaan kesehatan umum seperti cek tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat, hingga pemberian obat-obatan yang didatangkan langsung dari Jakarta.
Selain itu, tim medis juga melayani tindakan bedah minor, pemeriksaan serta perawatan gigi termasuk pencabutan gigi dan pembersihan karang gigi, pemeriksaan mata, hingga pembagian kacamata baca gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Untuk tindak lanjut pascaoperasi ringan, panitia bekerja sama dengan Puskesmas setempat. Seluruh biaya, termasuk pembukaan jahitan pascaoperasi, sepenuhnya ditanggung oleh panitia Metta Day dari Untar.
“Tidak ada pembebanan biaya kepada desa, pemerintah kabupaten, maupun pemerintah provinsi. Semua ditanggung oleh panitia,” tegasnya.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari. Hingga siang, jumlah warga yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan mencapai sekitar 500 orang dan diperkirakan terus bertambah hingga sore hari, mengingat kegiatan berlangsung sampai pukul 15.00 WITA.
“Pesertanya sangat beragam, mulai dari anak-anak hingga lansia. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan di masyarakat memang sangat besar,” tambahnya.
Hamdani berharap, kegiatan ini dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi perguruan tinggi lain, khususnya yang berada di Nusa Tenggara Barat, untuk bersinergi dengan pemerintah desa dalam menghadirkan program pengabdian masyarakat yang berdampak langsung.
“Kami berharap universitas-universitas di NTB dapat menggerakkan mahasiswa dan civitas akademika untuk turun langsung membantu masyarakat. Program seperti ini sangat bermanfaat dan dirasakan langsung oleh warga,” katanya.
Apresiasi terhadap program ini juga disampaikan oleh tokoh masyarakat Kuripan, R. Wijaya. Ia menilai, langkah yang dilakukan Kepala Desa Giri Sasak merupakan terobosan yang patut dicontoh oleh desa-desa lain di Lombok Barat.
“Program yang didatangkan oleh Kepala Desa Giri Sasak ini sangat luar biasa. Tidak banyak desa di Lombok Barat yang mampu menjemput program sebesar ini. Ini menunjukkan kepala desa harus aktif membangun jaringan dan mencari peluang bagi masyarakatnya,” ujar Wijaya.
Menurutnya, peran kepala desa tidak hanya sebatas pelayanan administratif, tetapi juga harus proaktif dalam menghadirkan program strategis dari luar demi kesejahteraan warga.
“Sekitar 75 persen peran kepala desa itu ke luar untuk menjemput program, dan 25 persen di desa untuk melayani masyarakat. Saya sangat bangga dan mengapresiasi Kepala Desa Giri Sasak. Ke depan, kami di Jagaraga juga ingin menerapkan pola yang sama,” pungkasnya.
Program pengobatan gratis ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah desa, perguruan tinggi, dan tenaga medis dalam memperkuat akses layanan kesehatan bagi masyarakat pedesaan, sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan sosial yang berkelanjutan.







