LOMBOK BARAT, Halontb.com – Keluhan warga terkait pelayanan di RSUD Patut Patuh Patju (Tripat) Gerung, Kabupaten Lombok Barat, menjadi perhatian publik setelah beredar luas di media sosial. Unggahan salah satu anggota keluarga pasien mengungkapkan kekecewaan terhadap pelayanan yang diterima ayahnya saat menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut.
Dalam unggahannya, keluarga pasien mengaku telah tiga kali membawa sang ayah berobat ke RSUD Tripat Gerung dengan keluhan sulit makan. Namun, setelah menjalani pemeriksaan, pasien disebut hanya diberikan obat pereda nyeri dan vitamin serta tidak disarankan untuk menjalani rawat inap.
Keluarga kemudian memutuskan mencari pendapat medis lain dengan membawa pasien ke dokter spesialis penyakit dalam. Berdasarkan pemeriksaan lanjutan, pasien disebut mengalami infeksi lambung yang memerlukan penanganan lebih intensif, termasuk pemeriksaan darah, rontgen, serta rawat inap karena kondisi hemoglobin (HB) yang rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami sangat kecewa dengan pelayanan Rumah Sakit Tripat Gerung,” tulis pemilik akun tersebut dalam unggahan yang kemudian ramai mendapat tanggapan dari warganet.
Menanggapi keluhan yang viral tersebut, pihak manajemen RSUD Tripat Gerung melalui Kepala Bidang Pelayanan, drg. I Nyoman Adnyana Putra, menegaskan bahwa manajemen rumah sakit tidak menutup mata terhadap kritik yang disampaikan masyarakat.
Menurutnya, begitu informasi tersebut muncul di media sosial, pihak rumah sakit langsung melakukan pengecekan dan investigasi internal terhadap pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), lokasi yang disebut dalam keluhan keluarga pasien.
“Kami tidak menyalahkan pasien maupun keluarga pasien. Menyampaikan aspirasi dan keluhan adalah hak masyarakat. Justru kami berterima kasih karena kritik seperti ini menjadi bahan introspeksi bagi rumah sakit untuk melihat apa yang masih perlu diperbaiki,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Hasil penelusuran sementara menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan yang dilakukan dokter saat itu telah mengikuti standar operasional yang berlaku. Pasien diketahui datang ke IGD pada sore hari dan sempat menjalani observasi oleh dokter jaga.
Berdasarkan keterangan tenaga medis yang menangani, kondisi pasien saat observasi disebut mengalami perbaikan. Keluhan mual dan muntah berkurang sehingga pasien diperbolehkan pulang dengan membawa obat dan edukasi medis mengenai langkah yang harus dilakukan apabila kondisi kembali memburuk.
“Pasien bukan disuruh pulang begitu saja. Dokter sudah memberikan edukasi bahwa jika keluhan tidak membaik atau muncul kembali di rumah, pasien dapat segera kembali ke IGD yang beroperasi selama 24 jam,” jelas Nyoman.
Ia memahami kekhawatiran keluarga yang kemudian memilih mencari layanan kesehatan di tempat lain. Menurutnya, langkah tersebut merupakan hak setiap pasien untuk mendapatkan pendapat medis kedua atau second opinion.
Meski demikian, manajemen rumah sakit mengakui bahwa munculnya keluhan tersebut menjadi sinyal penting untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas pelayanan, khususnya di unit IGD.
Nyoman mengatakan pihak direksi telah mengagendakan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan, termasuk kemungkinan penyesuaian penempatan petugas apabila diperlukan demi meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
“Kami tidak fokus mencari siapa yang salah. Fokus kami adalah melakukan perbaikan agar ada progres nyata dan jumlah keluhan masyarakat dapat ditekan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa RSUD Tripat Gerung melayani sekitar 12.000 hingga 15.000 pasien setiap bulan. Dengan jumlah pelayanan yang besar, keluhan dari masyarakat tetap menjadi perhatian serius yang harus ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan yang terukur.
Dalam kesempatan tersebut, pihak rumah sakit juga menyampaikan permohonan maaf kepada pasien maupun keluarga yang merasa belum mendapatkan pelayanan sesuai harapan.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya apabila masih ada pasien yang merasa kurang nyaman atau belum puas terhadap pelayanan kami. Kritik dan saran yang disampaikan akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah dan meningkatkan mutu pelayanan,” ujar Nyoman.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang jelas antara tenaga medis dan keluarga pasien agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam proses pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, kritik dari masyarakat diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi konstruktif guna meningkatkan kualitas pelayanan publik di sektor kesehatan.
Pihak RSUD Tripat Gerung menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembenahan dan membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan demi terciptanya pelayanan kesehatan yang lebih baik, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan pasien.











