MATARAM, Halontb.com — Kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa I Gede Graha Gunawan (30) di kawasan Jalan Anggada No. 18 A Cakranegara Selatan, Mataram, hingga kini belum menemukan titik terang secara menyeluruh. Korban masih dalam kondisi koma dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit rujukan provinsi setelah mengalami pendarahan otak akibat diduga benturan benda tumpul.
Ayah korban, I Ketut Sudiarta, mendesak aparat kepolisian mengusut kasus ini hingga tuntas. Ia menilai penetapan satu tersangka oleh pihak kepolisian belum memadai, mengingat adanya dugaan keterlibatan lebih dari satu orang dalam insiden tersebut.
Baca juga: Dari 6 Meter Menjadi 10,5 Meter, Wajah Baru Ruas Jereweh-Benete Usai Ditangani
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketut Sudiarta mengatakan, insiden bermula pada dini hari 5 Agustus lalu, sekitar pukul 02.45 WITA, saat korban bersama istri dan dua orang temannya tengah berada di sebuah kafe bernama DJembank. Sudiarta menyebutkan istri korban sempat keluar lebih dulu karena perbedaan pendapat kecil, namun tak lama kemudian keributan pecah di area tersebut.
“Sekitar jam 5 pagi, saya dapat telepon dari istri anak saya. Dia bilang anak saya tidak sadar-sadar dan sudah dibawa ke klinik. Istrinya melaporkan bahwa suaminya dikeroyok,” ujarnya saat ditemui di RSUD Provinsi NTB, Kamis (27/8/2026).
Baca juga: Kantor Desa Kebon Ayu Kembali Disegel, Pelayanan Publik Terganggu, Kades Kasim Tempuh Jalur Hukum
Ia menyebut para pelaku diduga merupakan pihak internal kafe, termasuk petugas keamanan. Sudiarta mengaku belum mengetahui secara pasti identitas maupun unit kerja masing-masing orang yang diduga terlibat.
Situasi disebut sempat memanas ketika dua rekan korban berusaha melerai. Salah satunya, menurut keterangan keluarga, ikut menjadi sasaran saat berupaya membantu, sementara rekan lainnya dicegah untuk menolong. Keluarga memperkirakan jumlah orang yang terlibat dalam insiden tersebut mencapai 9 hingga 10 orang.
Sudiarta juga menyebut rekaman CCTV yang ada kurang jelas untuk merekonstruksi detail awal kejadian, meski dari rekaman tersebut terlihat korban masih dalam kondisi baik saat berjalan menuju area parkir sebelum insiden terjadi.
Pascakejadian, korban dilarikan ke klinik setempat. Hasil pemeriksaan medis awal menyebutkan adanya luka yang diduga akibat benda tumpul serta pendarahan yang cukup serius.
“Di visum tertulis luka akibat benda tumpul. Tidak mungkin hanya karena jatuh biasa bisa menyebabkan luka seperti itu,” kata Sudiarta.
Kondisi korban sempat kritis, mengalami kejang dan pendarahan dari telinga sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Tim medis kemudian melakukan tindakan darurat berupa pemasangan kateter untuk mengangkat gumpalan darah yang menekan otak. Hingga kini, korban telah 22 hari menjalani perawatan dalam kondisi koma.
Sudiarta juga menjelaskan bahwa Polresta Mataram melalui Polsek Sandubaya sejauh ini telah menetapkan satu orang tersangka berinisial P, yang merupakan petugas keamanan di lokasi kejadian, dengan dugaan tindakan mendorong korban hingga terjatuh. Proses hukum terhadap tersangka masih berjalan.
Baca Juga: Kapolda Bersama Gubernur NTB Tinjau Rumah Adat Sasak Sade yang Terbakar
Keluarga korban menilai penetapan satu tersangka belum mencerminkan kompleksitas peristiwa yang mereka yakini melibatkan lebih banyak pihak.
“Kami minta diusut tuntas, siapa saja yang terlibat,” desak Sudiarta, seraya berharap penyidik turut mendalami kemungkinan pihak lain yang berperan dalam insiden tersebut.
Keluarga juga menyoroti minimnya pertolongan yang diterima korban saat kejadian berlangsung, dengan menyebut adanya saksi yang melihat rekan korban dihalangi ketika hendak membantu.

Terpisah, saat dikonfirmasi di lokasi, manajemen DJembank Hotel memilih tidak banyak berkomentar. Rara, salah satu manajer di tempat tersebut, menyatakan bahwa pihak manajemen telah menyerahkan seluruh keterangan terkait insiden kepada Polsek dan Polres setempat untuk menghindari simpang siur informasi.
“Semua sudah diserahkan langsung ke Polsek. Sudah ditangani dan penyelidikan langsung sama Polsek,” ujarnya.
Baca juga: Dikbud Lobar Klarifikasi Temuan BPK soal Dana BOS, Sebut Pengembalian Sudah Capai 60 Persen
Rara juga menyebut dirinya tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung karena bertugas pada shift pagi, sementara insiden terjadi pada dini hari. Ia menambahkan bahwa manajer eksekutif yang bertugas pada malam hari telah mengarahkan agar permintaan keterangan lebih lanjut disampaikan langsung ke pihak kepolisian.
Kasus ini menjadi sorotan publik terkait keamanan pengunjung tempat hiburan malam serta tanggung jawab pengelola terhadap tindak kekerasan yang diduga melibatkan pegawainya sendiri. Pihak berwenang diharapkan dapat mempercepat proses penyidikan guna memberikan kepastian hukum bagi korban dan keluarganya.










