22 Hari Koma Usai Diduga Dikeroyok di Kafe Mataram, Keluarga Korban Desak Polisi Usut Semua Pelaku

- Wartawan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

I Ketut Sudiarta menahan kesedihan saat menceritakan kondisi anaknya yang hingga kini masih koma akibat dirawat di RSUD Provinsi NTB, diduga dikeroyok di sebuah kafe di Mataram.

I Ketut Sudiarta menahan kesedihan saat menceritakan kondisi anaknya yang hingga kini masih koma akibat dirawat di RSUD Provinsi NTB, diduga dikeroyok di sebuah kafe di Mataram.

MATARAM, Halontb.com — Kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa I Gede Graha Gunawan (30) di kawasan Jalan Anggada No. 18 A Cakranegara Selatan, Mataram, hingga kini belum menemukan titik terang secara menyeluruh. Korban masih dalam kondisi koma dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit rujukan provinsi setelah mengalami pendarahan otak akibat diduga benturan benda tumpul.

Ayah korban, I Ketut Sudiarta, mendesak aparat kepolisian mengusut kasus ini hingga tuntas. Ia menilai penetapan satu tersangka oleh pihak kepolisian belum memadai, mengingat adanya dugaan keterlibatan lebih dari satu orang dalam insiden tersebut.

Baca juga: Dari 6 Meter Menjadi 10,5 Meter, Wajah Baru Ruas Jereweh-Benete Usai Ditangani

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketut Sudiarta mengatakan, insiden bermula pada dini hari 5 Agustus lalu, sekitar pukul 02.45 WITA, saat korban bersama istri dan dua orang temannya tengah berada di sebuah kafe bernama DJembank. Sudiarta menyebutkan istri korban sempat keluar lebih dulu karena perbedaan pendapat kecil, namun tak lama kemudian keributan pecah di area tersebut.

“Sekitar jam 5 pagi, saya dapat telepon dari istri anak saya. Dia bilang anak saya tidak sadar-sadar dan sudah dibawa ke klinik. Istrinya melaporkan bahwa suaminya dikeroyok,” ujarnya saat ditemui di RSUD Provinsi NTB, Kamis (27/8/2026).

Baca juga: Kantor Desa Kebon Ayu Kembali Disegel, Pelayanan Publik Terganggu, Kades Kasim Tempuh Jalur Hukum

Ia menyebut para pelaku diduga merupakan pihak internal kafe, termasuk petugas keamanan. Sudiarta mengaku belum mengetahui secara pasti identitas maupun unit kerja masing-masing orang yang diduga terlibat.

Situasi disebut sempat memanas ketika dua rekan korban berusaha melerai. Salah satunya, menurut keterangan keluarga, ikut menjadi sasaran saat berupaya membantu, sementara rekan lainnya dicegah untuk menolong. Keluarga memperkirakan jumlah orang yang terlibat dalam insiden tersebut mencapai 9 hingga 10 orang.

Sudiarta juga menyebut rekaman CCTV yang ada kurang jelas untuk merekonstruksi detail awal kejadian, meski dari rekaman tersebut terlihat korban masih dalam kondisi baik saat berjalan menuju area parkir sebelum insiden terjadi.

Baca juga: Tekan Angka Kejahatan 3C dan Balap Liar, Tim URC Puma Ditreskrimum Polda NTB Gencarkan Patroli Strong Point

Pascakejadian, korban dilarikan ke klinik setempat. Hasil pemeriksaan medis awal menyebutkan adanya luka yang diduga akibat benda tumpul serta pendarahan yang cukup serius.

“Di visum tertulis luka akibat benda tumpul. Tidak mungkin hanya karena jatuh biasa bisa menyebabkan luka seperti itu,” kata Sudiarta.

Kondisi korban sempat kritis, mengalami kejang dan pendarahan dari telinga sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Tim medis kemudian melakukan tindakan darurat berupa pemasangan kateter untuk mengangkat gumpalan darah yang menekan otak. Hingga kini, korban telah 22 hari menjalani perawatan dalam kondisi koma.

Sudiarta juga menjelaskan bahwa Polresta Mataram melalui Polsek Sandubaya sejauh ini telah menetapkan satu orang tersangka berinisial P, yang merupakan petugas keamanan di lokasi kejadian, dengan dugaan tindakan mendorong korban hingga terjatuh. Proses hukum terhadap tersangka masih berjalan.

Baca Juga: Kapolda Bersama Gubernur NTB Tinjau Rumah Adat Sasak Sade yang Terbakar

Keluarga korban menilai penetapan satu tersangka belum mencerminkan kompleksitas peristiwa yang mereka yakini melibatkan lebih banyak pihak.

“Kami minta diusut tuntas, siapa saja yang terlibat,” desak Sudiarta, seraya berharap penyidik turut mendalami kemungkinan pihak lain yang berperan dalam insiden tersebut.

Keluarga juga menyoroti minimnya pertolongan yang diterima korban saat kejadian berlangsung, dengan menyebut adanya saksi yang melihat rekan korban dihalangi ketika hendak membantu.

Kafe DJembank, Cakranegara Selatan, Mataram, yang diduga menjadi lokasi pengeroyokan hingga menyebabkan korban koma selama 22 hari.

Terpisah, saat dikonfirmasi di lokasi, manajemen DJembank Hotel memilih tidak banyak berkomentar. Rara, salah satu manajer di tempat tersebut, menyatakan bahwa pihak manajemen telah menyerahkan seluruh keterangan terkait insiden kepada Polsek dan Polres setempat untuk menghindari simpang siur informasi.

“Semua sudah diserahkan langsung ke Polsek. Sudah ditangani dan penyelidikan langsung sama Polsek,” ujarnya.

Baca juga: Dikbud Lobar Klarifikasi Temuan BPK soal Dana BOS, Sebut Pengembalian Sudah Capai 60 Persen

Rara juga menyebut dirinya tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung karena bertugas pada shift pagi, sementara insiden terjadi pada dini hari. Ia menambahkan bahwa manajer eksekutif yang bertugas pada malam hari telah mengarahkan agar permintaan keterangan lebih lanjut disampaikan langsung ke pihak kepolisian.

Kasus ini menjadi sorotan publik terkait keamanan pengunjung tempat hiburan malam serta tanggung jawab pengelola terhadap tindak kekerasan yang diduga melibatkan pegawainya sendiri. Pihak berwenang diharapkan dapat mempercepat proses penyidikan guna memberikan kepastian hukum bagi korban dan keluarganya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Geger! Jenazah Tanpa Identitas Ditemukan di Bukit Lendang Luar, Basarnas Evakuasi Korban
Polisi Tetapkan Pimpinan Ponpes di Lombok Barat sebagai Tersangka Dugaan Pencabulan Santriwati
Dua Pria Diduga Pengedar Sabu Ditangkap di Gerung, 72,42 Gram Disita
Jelang MotoGP Mandalika, Polisi Patroli Jalur Logistik di Pelabuhan Lembar
LPA Mataram Ungkap Dugaan Modus Kekerasan Seksual di Ponpes Lombok Tengah, Korban Diduga Bertambah
Polda NTB Naikkan Kasus Dugaan Penyimpangan Anggaran PT Energi Selaparang ke Tahap Penyidikan
Lapas Lombok Barat Gandeng TNI-Polri dan BNN, Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine
Polisi Buru Penyebar Video Hoaks Pembakaran Dapur MBG di Lombok Tengah

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:03 WITA

KMP Putri Yasmin Terbakar, Direktur RSUD Tripat Turun Langsung Pantau Penanganan Korban

Rabu, 22 April 2026 - 01:56 WITA

Iwan Slenk Tegaskan Gubernur NTB Tak Terkait Unsur Gratifikasi, Desakan Pemanggilan Dinilai Prematur

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:21 WITA

Jelang Ramadan, PLN Perkuat Sistem Kelistrikan Sumbawa dan Siagakan Ratusan Personel

Jumat, 10 Oktober 2025 - 16:12 WITA

Vonis 8 Tahun untuk Rosiady, Penasihat Hukum: “Tidak Ada Satu Rupiah Pun Uang Negara Keluar”

Jumat, 1 Agustus 2025 - 09:11 WITA

Gibran ke Lombok Tengah: Sambangi Pesantren, Nikmati Makan Siang Bareng Santri dan Tuan Guru

Selasa, 24 Juni 2025 - 05:25 WITA

Ketua Liga NWDI: Indonesia Jangan Bungkam, Saatnya Prabowo Pimpin Gerakan Perdamaian Global

Kamis, 15 Mei 2025 - 01:27 WITA

Swasembada Pangan Prioritas Pembangunan Nasional

Selasa, 8 April 2025 - 03:26 WITA

Disangka Sarang Narkoba, Wisma NTB Justru Tunjukkan Keteladanan: Kooperatif, Transparan, dan Bebas dari Pelanggaran

Berita Terbaru