Halontb.com – Lembaga Sembelih Hidayatullah (LSH) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem halal di Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi Juru Sembelih Halal (Juleha) berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), LSH berupaya memastikan jaminan keamanan pangan dari hulu hingga ke hilir.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (Senin–Selasa, 19–20 Januari 2026) ini digelar di Aula Kementerian Agama Kabupaten Lombok Barat. Agenda ini diikuti oleh puluhan peserta yang didominasi oleh pelaku dan pemasok daging, termasuk para penyedia protein hewani untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Pemerintah Pusat.
Ketua LSH, Ustaz Nanang Hanani, menegaskan bahwa juru sembelih adalah “penjaga gawang” pertama dalam rantai pasok pangan. Menurutnya, kedaulatan halal sebuah produk sangat bergantung pada proses penyembelihan yang benar secara syariat maupun teknis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Juru sembelih adalah mata rantai paling hulu. Jika di titik ini standar profesionalisme dan syariat tidak terpenuhi, maka status halal di hilir akan terancam. Ini adalah ikhtiar kami mendukung visi NTB sebagai destinasi wisata halal dunia,” ujar Ustaz Nanang di sela-sela kegiatan, Senin (19/1).
Pelatihan yang diikuti sekitar 30 peserta ini juga menjadi jawaban atas instruksi Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) melalui program nasional “Satu Desa, Dua Juleha”.
Pelatihan ini menarik perhatian dengan diperkenalkannya metode “Sapu Cinta”, sebuah teknik perebahan hewan yang mengedepankan prinsip Animal Welfare (kesejahteraan hewan) untuk meminimalkan stres pada ternak sebelum disembelih.
LSH membekali peserta dengan tiga pilar utama: Iman, Ihsan, dan Profesional. Materi yang diujikan meliputi fikih penyembelihan, adab spiritual, hingga teknis penggunaan bilah dengan standar ketajaman maksimal. Seluruh instruktur dalam agenda ini telah mengantongi sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Kelulusan bersifat ketat dan berbasis kompetensi nyata. Jika praktik lapangan menunjukkan titik sayatan belum presisi, peserta wajib mengulang hingga benar-benar mumpuni,” tegasnya.
Hidayatullah NTB kini telah mengoperasikan ekosistem halal terpadu melalui empat unit layanan spesifik:
1. Sasambo Halal: Pusat layanan informasi halal bagi masyarakat.
2. LPH (Lembaga Pemeriksa Halal): Melayani audit halal untuk hotel dan rumah makan.
3. LSH (Lembaga Sembelih Halal): Fokus pada standarisasi juru sembelih.
4. LP3H: Pendampingan sertifikasi halal gratis bagi pelaku UKM.
Apresiasi datang dari Kasi Bimas Islam Kemenag Lombok Barat, Nahrowi. Ia menekankan pentingnya mengubah paradigma masyarakat agar tidak hanya melihat sosok penjual, tetapi juga memahami legalitas proses penyembelihannya.
“Kami menargetkan minimal satu desa memiliki satu Juleha bersertifikat. Saat ini Lombok Barat memiliki 122 desa, dan kebutuhan tenaga kompeten sangat mendesak. Data Juleha yang lulus akan kami distribusikan melalui Kantor Urusan Agama (KUA) agar masyarakat mudah mengakses jasa mereka,” jelas Nahrowi.
Pelatihan di Lombok Barat ini menandai putaran kesembilan safari edukasi LSH di wilayah NTB, menyusul kesuksesan sebelumnya di Sumbawa, Dompu, dan Bima. Melalui standarisasi ini, Juleha diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjamin konsumsi daging yang tidak hanya halal, tetapi juga thayib bagi seluruh lapisan masyarakat.







