Halontb.com – Mataram – Bencana banjir rob kembali mengancam permukiman warga pesisir di Kota Mataram. Kali ini, gelombang laut tinggi menghantam Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, menyebabkan kerusakan berat pada sedikitnya enam rumah warga. Tiga di antaranya dilaporkan hanyut terseret ombak, sementara tiga rumah lainnya tidak lagi layak huni.
Kondisi tersebut mendapat perhatian langsung dari Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Lalu Muhamad Iqbal. Sepulang dari kunjungan kerja di Pulau Sumbawa, Gubernur langsung menuju lokasi bencana tanpa terlebih dahulu kembali ke Pendopo Gubernur.
Di tengah puing-puing rumah yang rusak, Gubernur berbincang dengan warga untuk mendengar langsung dampak yang mereka alami. Sejumlah warga mengaku trauma dengan kejadian tersebut, karena gelombang datang saat sebagian besar warga tengah beristirahat di rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Kepala Lingkungan Bugis, Suherman, gelombang mulai meninggi sejak pukul 20.00 WITA dan terus berlangsung hingga sekitar pukul 01.00 dini hari. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,5 meter, jauh lebih besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Biasanya ombak tidak sampai sejauh ini. Tapi tadi malam langsung menghantam rumah warga,” ungkapnya.
Kerusakan terparah dialami enam rumah warga yang berada paling dekat dengan garis pantai. Selain itu, sejumlah rumah lain juga terdampak abrasi meski masih dapat ditempati secara terbatas. Warga berharap pemerintah segera menyediakan tempat evakuasi yang layak serta solusi jangka panjang atas ancaman banjir rob yang berulang setiap musim tertentu.
Dalam kunjungannya, Gubernur Iqbal menekankan pentingnya mitigasi bencana pesisir secara menyeluruh. Ia menilai persoalan banjir rob tidak bisa diselesaikan hanya dengan langkah darurat, tetapi membutuhkan perencanaan jangka panjang, termasuk relokasi, perlindungan garis pantai, dan penataan kawasan pesisir.
“Kita harus memikirkan keselamatan warga ke depan. Bukan hanya hari ini, tapi juga tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi NTB bersama Pemerintah Kota Mataram menyiapkan tenda darurat bagi warga terdampak. Bantuan sosial juga disalurkan melalui BPBD, Dinas Sosial, dan Baznas NTB. Sementara itu, rencana relokasi ke rumah susun masih terus dikaji, mengingat keterbatasan kapasitas hunian sementara yang tersedia.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Tim Reaksi Cepat BPBD Provinsi NTB dan BPBD Kota Mataram, unsur TNI-Polri, relawan kemanusiaan, serta aparat kelurahan dan kecamatan setempat. Suasana haru tampak saat Gubernur menyempatkan diri duduk bersama warga sambil minum kopi, mendengarkan cerita mereka tentang detik-detik ombak menghantam rumah.
BMKG memprediksi hujan dan angin kencang masih akan terjadi hingga 26 Januari 2026. Pemerintah pun mengimbau masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi jika kondisi laut kembali memburuk.







