Halontb.com – Hidayah kerap hadir melalui jalan sunyi, melalui perenungan panjang dan pergulatan batin yang tak selalu tampak di permukaan. Itulah perjalanan yang dilalui sebuah keluarga asal Pagesangan, Kota Mataram, hingga akhirnya mantap menapaki babak baru kehidupan dengan memeluk agama Islam.
Pada Jumat (16/1), suasana khidmat menyelimuti Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB. Di masjid kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Barat itu, Ida Made Arka bersama istrinya, Made Eni Wulandari, serta dua putra mereka I Ketut Putra Triwijayanto dan I Putu Chandra Wijaya secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat. Tangis haru dan doa mengiringi prosesi sakral yang menandai perubahan besar dalam perjalanan spiritual keluarga tersebut.
Keputusan menjadi mualaf, ditegaskan keluarga, lahir dari kesadaran penuh, tanpa bujukan maupun tekanan pihak mana pun. Bagi Ida Made Arka, pilihan memeluk Islam merupakan puncak dari pencarian ketenangan batin yang telah lama ia rasakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Islam menghadirkan kedamaian yang selama ini saya cari. Saya menjalaninya dengan keyakinan, dan Alhamdulillah seluruh keluarga mendukung,” ujarnya usai prosesi.
Kisah pencarian ini menjadi semakin menarik ketika sang istri, Made Eni Wulandari, mengungkap bahwa benih keislaman justru tumbuh paling kuat dari putra sulung mereka, I Ketut Putra Triwijayanto, yang masih berstatus pelajar SMA. Ketertarikan sang anak terhadap Islam telah muncul sejak lama, bahkan jauh sebelum keluarga mengambil keputusan besar tersebut.
“Sejak dulu dia sering ingin ke masjid, meskipun saat itu masih nonmuslim. Sejak gempa Lombok 2018, dia sudah menyampaikan keinginannya untuk menjadi muslim. Hari ini Allah mengabulkan niat itu,” tutur Made Eni dengan suara bergetar penuh syukur.
Usai mengucapkan syahadat, keluarga ini mengaku merasakan ketenangan dan kenyamanan batin yang mendalam. Mereka meyakini bahwa langkah yang diambil bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari takdir dan petunjuk Allah SWT yang datang di waktu terbaik.
Pendamping keluarga mualaf, Lalu Winengan, memaparkan bahwa proses menuju Islam tidak terjadi secara tiba-tiba. Niat keluarga Ida Made Arka pertama kali disampaikan kepadanya pada Minggu (11/1). Karena pertimbangan waktu dan kekhawatiran menunda niat yang sudah mantap, bimbingan awal pengucapan syahadat dilakukan lebih dulu secara sederhana di kediamannya di kawasan Udayana, bersama Ketua MUI NTB.
Setelah tahapan awal tersebut, Ida Made Arka juga menjalani prosesi khitan sebagai bagian dari penyempurnaan syariat. Barulah kemudian, pengucapan syahadat dilaksanakan secara terbuka dan disaksikan jamaah di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB.
“Alhamdulillah, di Islamic Center kami juga bertemu langsung dengan TGB yang kemudian memberikan bimbingan,” ujar Winengan.
Dalam kesempatan itu, Tuan Guru Bajang M. Zainul Majdi memastikan bahwa proses masuk Islam keluarga tersebut berlangsung atas dasar kesadaran penuh, tanpa unsur paksaan. Ia juga menyampaikan pesan penting agar keluarga mualaf ini tetap menjaga silaturahmi dengan keluarga besar dan lingkungan yang berbeda keyakinan.
“Teruskan semua kebaikan yang sudah ada. Islam tidak menghapus nilai-nilai baik, justru menyempurnakannya,” pesan TGB yang juga merupakan mantan Gubernur NTB dua periode.
Sebagai muslim baru, TGB mengingatkan kewajiban dasar dalam Islam yang perlu dijaga dan dipelajari secara bertahap, seperti menunaikan salat lima waktu, membayar zakat, serta menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Kini, keluarga Ida Made Arka menapaki fase baru kehidupan dengan keyakinan yang mereka pilih sendiri sebuah perjalanan iman yang lahir dari pencarian, diperkuat oleh ketulusan, dan disempurnakan oleh hidayah. Sebuah kisah yang menegaskan bahwa cahaya petunjuk dapat datang kepada siapa saja, kapan saja, dan melalui jalan yang tak selalu terduga.







