Indikasi kelima, kata Ojhie, terkait dengan dukungan lembaga keuangan dibawah 3 persen untuk industri. Tampak lembaga keuangan belum melirik sektor ini.
“Akhirnya saya tutup diskusi ini dengan proyek mangkrak pabrik seed dan feedmil. Saya urai dari teorinya Weber. Saya juga ungkap soal motor listrik, masuk kantong kanan keluar kantong kiri, ” tegasnya.
Dalam diskusi itu, sambung Ojhie, Gubernur NTB dan Kadis Perindustrian yang hadir lebih banyak bicara menggunakan frase “akan atau masih dalam proses.” Misalnya rencana Antoni Salim akan investasi. Padahal ini sudah di akhir masa jabatan. Tampaknya pejabat di NTB kurang memperhatikan industrialisasi sebagai proses panjang, seperti yang diungkapkan dalam cerita hidup oleh Nasrin sang pencetus Teh Kelor, sehingga kontinuitas industrialisasi seperti yang dipaparkan Kepala Dinas Perindustrian dimulai dari 2020 dengan rencana induk industrialisasinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya menyebut seminar itu Diskusi tanpa Jawaban. Karena 5 indikasi tadi jawabannya, Covid . Padahal saya sudah sederhanakan menjadi tahun 2021-2022, ” ucapnya.
Dalam diskusi dengan Iwan Harsono, Ojhie menyebut, ada yang salah ketika Gubernur NTB menyamakan pertumbuhan industri 7 persen dari pertumbuhan jumlah UMKM industri.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


































