MATARAM, HaloNTB.com — Perubahan besar dalam industri perbankan tidak selalu dimulai dari pembukaan kantor baru atau ekspansi jaringan fisik.
Di era digital, batas geografis sebuah bank justru semakin ditentukan oleh kemampuan teknologinya.
Bank milik daerah Nusa Tenggara Barat itu kini menyiapkan langkah menuju status Bank Devisa pada 2027, di tengah upaya memperkuat transformasi digital dan membangun ekosistem layanan keuangan yang dapat menjangkau transaksi lintas negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini menarik karena fondasi transaksi internasional Bank NTB Syariah sebenarnya sudah mulai terlihat melalui layanan digital.
Pada Mei 2026, Bank NTB Syariah mengumumkan implementasi QRIS Cross Border yang memungkinkan transaksi pembayaran lintas negara melalui ekosistem QRIS. Layanan tersebut telah mencakup sejumlah negara, termasuk Korea Selatan, China, Malaysia, Thailand dan Singapura.
Pada September 2026, cakupan layanan digital tersebut diberitakan telah menjangkau enam negara Asia, yakni Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok. Nasabah dapat memanfaatkan aplikasi RIMO untuk melakukan transaksi pada merchant yang mendukung layanan QRIS Cross Border.
Perkembangan itu memperlihatkan satu hal penting: aktivitas ekonomi masyarakat NTB sudah semakin terkoneksi dengan dunia luar.
Wisatawan asing datang ke NTB. Masyarakat NTB bekerja di luar negeri. Pelaku UMKM berinteraksi dengan pasar yang semakin luas. Mobilitas masyarakat meningkat.
Sementara itu, kebutuhan transaksi tidak lagi selalu menggunakan pola konvensional.
Karena itulah transformasi Bank NTB Syariah diarahkan lebih luas daripada sekadar digitalisasi layanan.
Pemerintah Provinsi NTB mendorong Bank NTB Syariah melakukan corporate turnaround, yaitu transformasi dari fase recovery menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dalam roadmap 2026–2027, sejumlah agenda menjadi perhatian, mulai dari restrukturisasi model bisnis, penguatan pembiayaan produktif, peningkatan CASA, penguatan digital banking hingga peningkatan produktivitas organisasi.
Setelah tahapan tersebut, Bank NTB Syariah menargetkan status Bank Devisa pada 2027 dengan tetap mengikuti seluruh persyaratan dan ketentuan regulator.
Target itu sekaligus menunjukkan bahwa transformasi digital dan transformasi kelembagaan berjalan beriringan.
Teknologi dapat membuka akses transaksi, tetapi status Bank Devisa membutuhkan kesiapan yang jauh lebih kompleks.
Ada aspek tata kelola. Ada manajemen risiko. Ada kesiapan sistem. Ada sumber daya manusia. Ada kepatuhan terhadap regulasi. Dan tentu saja ada tuntutan terhadap kekuatan fundamental bank.
Karena itu, perjalanan menuju Bank Devisa tidak dapat hanya diukur dari seberapa banyak transaksi digital yang berhasil dilakukan.
Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa siap seluruh organisasi Bank NTB Syariah mengelola bisnis yang semakin kompleks dan memiliki keterhubungan dengan sistem keuangan internasional.
Kebutuhan tersebut terlihat jelas dalam ekosistem PMI.
Saat ini Bank NTB Syariah masih memanfaatkan kerja sama dengan Maybank untuk kebutuhan tertentu yang berkaitan dengan transaksi lintas negara, termasuk dalam skema KUR PMI. Pemerintah menyebut Bank NTB Syariah ditargetkan menjadi Bank Devisa pada 2027 sehingga ruang keterlibatan langsung bank dalam transaksi internasional dapat dikembangkan.
Ketika seorang warga NTB bekerja di luar negeri, bank dapat hadir sejak sebelum keberangkatan melalui pembiayaan. Ketika sudah berada di luar negeri, bank dapat menyediakan konektivitas transaksi. Ketika penghasilan dikirim ke tanah air, sistem remitansi menjadi bagian dari ekosistem. Ketika dana sampai kepada keluarga, bank kembali berperan dalam pengelolaan keuangan.
Rantai tersebut menunjukkan bagaimana sebuah bank daerah dapat membangun hubungan dengan nasabah bukan hanya dalam satu fase kehidupan ekonomi, tetapi dari hulu hingga hilir.
Wisatawan mancanegara yang datang ke NTB membutuhkan kemudahan pembayaran. Pelaku usaha lokal membutuhkan sistem yang dapat menerima transaksi. UMKM membutuhkan akses terhadap ekosistem pembayaran modern.
QRIS Cross Border menjadi salah satu infrastruktur yang menghubungkan kebutuhan tersebut.
Maka, ketika Bank NTB Syariah berbicara tentang target Bank Devisa, yang sedang dipersiapkan sesungguhnya bukan hanya perubahan status.
Bank daerah dituntut mampu bergerak mengikuti masyarakat yang kini semakin mobile, digital dan terkoneksi secara internasional.
Roadmap tersebut bahkan tidak berhenti pada 2027. Setelah target Bank Devisa, Bank NTB Syariah diarahkan menyiapkan transformasi menjadi perusahaan terbuka dan IPO pada 2028 apabila seluruh aspek fundamental, permodalan, tata kelola serta persyaratan regulator dan pasar modal telah terpenuhi. Untuk 2029, agenda yang disiapkan adalah pengembangan financial holding melalui sinergi BUMD sektor keuangan sesuai ketentuan dan kajian kelembagaan.
Dengan demikian, perjalanan Bank NTB Syariah saat ini sedang memasuki fase yang menentukan.
Dari aplikasi di genggaman nasabah hingga transaksi lintas negara, dari kebutuhan PMI hingga wisatawan mancanegara, seluruhnya menjadi bagian dari ekosistem baru yang sedang dibangun.
Dan jika seluruh tahapan dapat dipenuhi sesuai ketentuan regulator, target Bank Devisa 2027 akan menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan transformasi Bank NTB Syariah.









