Halontb.com – Tak ada yang lebih menyayat daripada melihat ibadah suci berubah menjadi ujian yang tak seharusnya ada. Puluhan jamaah umroh asal NTB kini merasakan itu terlantar di Mekkah, tanpa kepastian pulang, tanpa perlindungan yang layak.
Berangkat dengan harapan, pulang dengan kecemasan. Itulah realitas pahit yang dialami jamaah yang sebagian besar berasal dari kampung dan berusia lanjut.
Mereka berangkat pada 22 Februari, namun perjalanan sudah bermasalah sejak awal. Enam hari “terjebak” di Jakarta tanpa fasilitas, lalu diberangkatkan ke tanah suci dengan durasi ibadah yang dipangkas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun puncak masalah terjadi saat kepulangan. Tiket yang seharusnya mengantar mereka kembali ke tanah air justru tidak pernah jelas keberadaannya.
Jamaah tidak memegang tiket. Tidak punya akses. Tidak tahu harus mengadu ke siapa.
Ketika uang habis, mereka diusir dari hotel.
Ketika sakit, mereka tidak tahu harus berobat ke mana.
Ketika berharap, yang datang justru janji kosong.
Dari 41 jamaah, kini tersisa 17 orang yang masih bertahan di Mekkah. Untuk pulang, mereka harus merogoh kocek hingga Rp15 juta per orang beban yang sepenuhnya ditanggung keluarga.
Ironinya, ini semua terjadi dalam perjalanan yang sejak awal dijual sebagai paket “include” berangkat dan pulang.
Realitas ini menelanjangi satu hal: ada praktik yang tidak sehat dalam penyelenggaraan umroh, dan korbannya adalah masyarakat kecil yang hanya ingin beribadah.
Lebih dari itu, kasus ini menguji keberpihakan pemerintah daerah dan pusat. Apakah mereka akan hadir sebagai pelindung, atau sekadar penonton yang menunggu prosedur selesai?
Publik kini menanti langkah konkret dari Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dan Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi NTB.
Bukan sekadar klarifikasi. Bukan sekadar imbauan.
Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata: memulangkan jamaah, memastikan keselamatan mereka, dan menindak tegas pihak yang bertanggung jawab.
Karena jika negara tidak hadir hari ini, maka pesan yang sampai ke rakyat sederhana, berangkatlah sendiri, dan jika terlantar, selamatkan dirimu sendiri.
Dan itu adalah kegagalan yang tidak boleh dibiarkan.
Editor : reza







