Kampung Pande Besi Talwa di Ujung Senja, Tradisi Ratusan Tahun Terancam Mati karena Minim Perhatian Pemerintah

- Wartawan

Jumat, 6 Maret 2026 - 05:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah pengrajin pande besi di Talwa masih mempertahankan cara tradisional dalam menempa besi. Warisan ratusan tahun ini kini menghadapi tekanan produk murah dari luar daerah. (Foto istimewa)

Sejumlah pengrajin pande besi di Talwa masih mempertahankan cara tradisional dalam menempa besi. Warisan ratusan tahun ini kini menghadapi tekanan produk murah dari luar daerah. (Foto istimewa)

Halontb.com – Dentingan palu yang memukul besi panas masih terdengar dari bengkel-bengkel sederhana di Dusun Talwa, Desa Leseng, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Namun di balik suara yang seolah menjadi denyut kehidupan itu, tersimpan kegelisahan panjang para pengrajin yang merasa ditinggalkan oleh perhatian pemerintah.

Talwa sejatinya bukan sekadar dusun biasa. Wilayah ini dikenal sebagai kampung pande besi tradisional yang telah melahirkan berbagai alat pertanian sejak ratusan tahun lalu. Pisau, parang, sabit, cangkul hingga berbagai alat tajam lainnya lahir dari tangan-tangan terampil para pengrajin lokal.

Saat ini terdapat sekitar 10 titik bengkel pande besi yang masih bertahan di Talwa. Namun jumlah itu terus terancam menyusut seiring semakin beratnya tekanan ekonomi yang mereka hadapi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masuknya produk-produk alat pertanian dari luar Pulau Sumbawa dengan harga yang jauh lebih murah membuat para pengrajin lokal kesulitan bersaing di pasar. Ironisnya, di tengah ancaman tersebut, para pengrajin mengaku tidak merasakan kehadiran nyata pemerintah dalam menjaga keberlangsungan industri tradisional ini.

“Sudah lama kami berharap ada bantuan nyata. Yang kami butuhkan itu permodalan dan bantuan pemasaran. Kalau hanya study banding atau pelatihan, itu tidak terlalu membantu,” ungkap M. Saleh, salah satu pengrajin pande besi di Talwa.

Menurutnya, keahlian menempa besi bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat Talwa. Kemampuan tersebut sudah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun, jauh sebelum pemerintah berbicara tentang pelatihan atau peningkatan kapasitas.

“Cara membuat pisau, arit, atau parang itu sudah kami lakukan sejak lama. Itu sudah menjadi tradisi kami. Jadi kalau hanya diajarkan lagi, tentu tidak banyak berubah,” ujarnya dengan nada kecewa.

Tradisi Kuat, Kebijakan Lemah

Proses pembuatan pande besi di Talwa masih mempertahankan metode tradisional yang membutuhkan tenaga besar dan ketelitian tinggi.

Besi mentah dipanaskan hingga memerah membara, kemudian ditempa dengan palu besar oleh satu hingga tiga orang pekerja. Setelah itu logam dibentuk melalui proses penggerindaan, pengikiran hingga penyepuhan untuk menghasilkan mata pisau yang tajam dan kuat.

Proses panjang ini menghasilkan produk yang dikenal tangguh dan tahan lama. Namun kualitas saja tidak cukup untuk bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin keras.

Produk pabrikan dari luar daerah yang diproduksi secara massal dan dijual dengan harga murah kini semakin menguasai pasar. Tanpa dukungan distribusi dan pemasaran yang jelas, produk pande besi Talwa semakin sulit menembus pasar yang lebih luas.

Program Ada, Dampak Hampir Tak Terasa

Pemerintah Desa Leseng melalui Sekretaris Desa yang akrab disapa Safes menyebutkan bahwa pemerintah desa sebenarnya telah berupaya membantu para pengrajin melalui kerja sama dengan Diskoperindag Kabupaten Sumbawa.

Pada tahun 2024 hingga 2025, pemerintah desa memfasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas pengrajin yang berlangsung selama tiga hari. Dalam kegiatan tersebut para pengrajin mendapatkan pembinaan serta bantuan alat seperti mesin gerinda, blower, dan kikir.

Namun bagi para pengrajin, program tersebut dinilai masih jauh dari cukup.

Bantuan alat memang membantu pekerjaan mereka, tetapi tidak menyentuh persoalan paling mendasar, yakni akses pasar dan modal usaha. Tanpa dua hal tersebut, produksi yang mereka hasilkan tetap sulit berkembang.

Potensi Besar yang Terabaikan

Talwa sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra industri pande besi tradisional di Kabupaten Sumbawa. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi pusat produksi sekaligus destinasi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Sayangnya hingga kini potensi tersebut masih berjalan tanpa arah kebijakan yang jelas. Para pengrajin tetap bekerja dengan cara lama, dengan pasar yang semakin sempit, dan dengan harapan yang perlahan memudar.

Jika pemerintah daerah terus abai, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kampung pande besi Talwa hanya tinggal nama. Dentingan palu yang selama ini menjadi simbol kerja keras masyarakat bisa saja berhenti, bukan karena para pengrajin kehilangan keahlian, tetapi karena negara gagal menjaga warisan industri rakyatnya sendiri.

Kini para pengrajin hanya berharap satu hal, pemerintah tidak lagi datang sekadar membawa program seremonial, tetapi benar-benar hadir dengan kebijakan nyata untuk menyelamatkan industri yang telah ditempa oleh sejarah selama ratusan tahun.

Facebook Comments Box

Editor : Gatot Suherman

Berita Terkait

Sentuh Ujung Lombok Barat, Gerakan Pangan Murah Pemprov NTB Sukses Tekan Harga Sembako
Sukseskan MTQ NTB 2026, PLN Tegaskan Peran Strategis Listrik dalam Mendukung Kegiatan Keagamaan dan Pembangunan Daerah
PLN Hadirkan Energi hingga Jantung Persawahan Sumbawa, 18 Pompanisasi Kini Beroperasi Penuh Dukung Ketahanan Pangan
Wujud Kepedulian Sosial, YBM PLN UIW NTB Bantu 18 Guru Ngaji dan Penyandang Disabilitas
PLN dan Pemprov NTB Bersinergi Dorong Revolusi Kendaraan Listrik, Infrastruktur SPKLU Kian Merata
Maknai Hari Lahir Pancasila, YBM PLN Bima Salurkan Modal Usaha untuk 14 Perempuan Pelaku UMKM
YBM PLN NTB Salurkan Santunan untuk Anak Yatim di Batukliang Utara, Hadirkan Harapan dan Semangat Baru
Percepat Pemerataan Energi di NTB, PLN Gandeng 22 Mitra Kerja dan Siapkan Operasi Besar BPBL 2026

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 23:14 WITA

GWO NTB Desak Polisi Usut Pemilik Akun Facebook “Mbk Mona” Terkait Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:53 WITA

Rizka Sintiyani Divonis 10 Tahun Penjara dalam Kasus Kematian Brigadir Esco

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:03 WITA

Pemkab Buleleng Layangkan SP-2, Pembangunan Tower di Bongancina Diminta Dihentikan

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:45 WITA

Tok! Radiet Divonis 6 Tahun Penjara dalam Kasus Kematian Mahasiswi Unram di Pantai Nipah

Rabu, 10 Juni 2026 - 05:10 WITA

Brigadir Rizka Dituntut 14 Tahun Penjara atas Kematian Suaminya Brigadir Esco

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:36 WITA

Kejari Lombok Tengah Tahan 4 Tersangka Korupsi Proyek Truk Sampah Senilai Rp5,1 Miliar

Senin, 1 Juni 2026 - 06:00 WITA

Bongkar Jaringan Lintas Provinsi, Tim Puma Jatanras Polda NTB Ringkus 8 Pelaku Curanmor

Sabtu, 30 Mei 2026 - 16:49 WITA

Kapolda NTB Pimpin Patroli Rinjani Presisi, 868 Personel Sisir Lokasi Rawan Kriminalitas

Berita Terbaru