Halontb.com – Dentingan palu yang memukul besi panas masih terdengar dari bengkel-bengkel sederhana di Dusun Talwa, Desa Leseng, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Namun di balik suara yang seolah menjadi denyut kehidupan itu, tersimpan kegelisahan panjang para pengrajin yang merasa ditinggalkan oleh perhatian pemerintah.
Talwa sejatinya bukan sekadar dusun biasa. Wilayah ini dikenal sebagai kampung pande besi tradisional yang telah melahirkan berbagai alat pertanian sejak ratusan tahun lalu. Pisau, parang, sabit, cangkul hingga berbagai alat tajam lainnya lahir dari tangan-tangan terampil para pengrajin lokal.
Saat ini terdapat sekitar 10 titik bengkel pande besi yang masih bertahan di Talwa. Namun jumlah itu terus terancam menyusut seiring semakin beratnya tekanan ekonomi yang mereka hadapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masuknya produk-produk alat pertanian dari luar Pulau Sumbawa dengan harga yang jauh lebih murah membuat para pengrajin lokal kesulitan bersaing di pasar. Ironisnya, di tengah ancaman tersebut, para pengrajin mengaku tidak merasakan kehadiran nyata pemerintah dalam menjaga keberlangsungan industri tradisional ini.
“Sudah lama kami berharap ada bantuan nyata. Yang kami butuhkan itu permodalan dan bantuan pemasaran. Kalau hanya study banding atau pelatihan, itu tidak terlalu membantu,” ungkap M. Saleh, salah satu pengrajin pande besi di Talwa.
Menurutnya, keahlian menempa besi bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat Talwa. Kemampuan tersebut sudah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun, jauh sebelum pemerintah berbicara tentang pelatihan atau peningkatan kapasitas.
“Cara membuat pisau, arit, atau parang itu sudah kami lakukan sejak lama. Itu sudah menjadi tradisi kami. Jadi kalau hanya diajarkan lagi, tentu tidak banyak berubah,” ujarnya dengan nada kecewa.
Tradisi Kuat, Kebijakan Lemah
Proses pembuatan pande besi di Talwa masih mempertahankan metode tradisional yang membutuhkan tenaga besar dan ketelitian tinggi.
Besi mentah dipanaskan hingga memerah membara, kemudian ditempa dengan palu besar oleh satu hingga tiga orang pekerja. Setelah itu logam dibentuk melalui proses penggerindaan, pengikiran hingga penyepuhan untuk menghasilkan mata pisau yang tajam dan kuat.
Proses panjang ini menghasilkan produk yang dikenal tangguh dan tahan lama. Namun kualitas saja tidak cukup untuk bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin keras.
Produk pabrikan dari luar daerah yang diproduksi secara massal dan dijual dengan harga murah kini semakin menguasai pasar. Tanpa dukungan distribusi dan pemasaran yang jelas, produk pande besi Talwa semakin sulit menembus pasar yang lebih luas.
Program Ada, Dampak Hampir Tak Terasa
Pemerintah Desa Leseng melalui Sekretaris Desa yang akrab disapa Safes menyebutkan bahwa pemerintah desa sebenarnya telah berupaya membantu para pengrajin melalui kerja sama dengan Diskoperindag Kabupaten Sumbawa.
Pada tahun 2024 hingga 2025, pemerintah desa memfasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas pengrajin yang berlangsung selama tiga hari. Dalam kegiatan tersebut para pengrajin mendapatkan pembinaan serta bantuan alat seperti mesin gerinda, blower, dan kikir.
Namun bagi para pengrajin, program tersebut dinilai masih jauh dari cukup.
Bantuan alat memang membantu pekerjaan mereka, tetapi tidak menyentuh persoalan paling mendasar, yakni akses pasar dan modal usaha. Tanpa dua hal tersebut, produksi yang mereka hasilkan tetap sulit berkembang.
Potensi Besar yang Terabaikan
Talwa sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra industri pande besi tradisional di Kabupaten Sumbawa. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi pusat produksi sekaligus destinasi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Sayangnya hingga kini potensi tersebut masih berjalan tanpa arah kebijakan yang jelas. Para pengrajin tetap bekerja dengan cara lama, dengan pasar yang semakin sempit, dan dengan harapan yang perlahan memudar.
Jika pemerintah daerah terus abai, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kampung pande besi Talwa hanya tinggal nama. Dentingan palu yang selama ini menjadi simbol kerja keras masyarakat bisa saja berhenti, bukan karena para pengrajin kehilangan keahlian, tetapi karena negara gagal menjaga warisan industri rakyatnya sendiri.
Kini para pengrajin hanya berharap satu hal, pemerintah tidak lagi datang sekadar membawa program seremonial, tetapi benar-benar hadir dengan kebijakan nyata untuk menyelamatkan industri yang telah ditempa oleh sejarah selama ratusan tahun.
Editor : Gatot Suherman


































