Halontb.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengambil langkah berani dengan mengakhiri tradisi seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi. Kebijakan ini bukan sekadar perubahan mekanisme, melainkan pergeseran filosofi dalam membangun birokrasi yang profesional dan berkeadilan.
Manajemen Talenta ASN dipilih sebagai arah baru pengembangan karier aparatur. Dalam sistem ini, ASN tidak lagi “berpacu di panggung seleksi”, melainkan diuji melalui konsistensi kinerja, kapasitas kepemimpinan, dan integritas yang terbangun dari waktu ke waktu.
Pemprov NTB menegaskan bahwa seleksi terbuka yang akan segera dibuka untuk sejumlah jabatan strategis merupakan fase penutup. Selanjutnya, seluruh proses promosi dan rotasi jabatan akan bertumpu pada pemetaan talenta berbasis kinerja dan potensi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebijakan ini secara implisit juga menjadi pesan keras bagi ASN: era kompromi terhadap kinerja sedang menuju akhir. ASN dituntut tidak hanya loyal secara struktural, tetapi juga mampu menunjukkan dampak nyata bagi pelayanan publik dan pembangunan daerah.
Meski demikian, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kesiapan internal birokrasi. Penilaian kinerja harus objektif, indikator harus jelas, dan pimpinan harus berani menolak intervensi non-profesional. Tanpa itu, manajemen talenta berpotensi menjadi sekadar slogan reformasi.
Pemerintah Provinsi NTB menyadari tantangan tersebut dan menyatakan komitmen untuk menjalankan sistem merit secara konsisten. Jika berhasil, NTB tidak hanya meninggalkan “beauty contest” jabatan, tetapi juga membangun birokrasi modern yang matang, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan publik.







