Revitalisasi Bank Sampah: Kunci Keberhasilan Pengelolaan Sampah di Lombok

- Wartawan

Kamis, 10 Juli 2025 - 13:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kevin Saputra. (Foto: Istimewa)

Kevin Saputra. (Foto: Istimewa)

Halontb.com – Masalah sampah semakin hari menjadi isu lingkungan yang mendesak di berbagai daerah, tak terkecuali di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Tengah menunjukkan bahwa sekitar 90 ton sampah per hari atau sekitar 600 ton per minggu harus ditangani dan dibuang ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA). Fakta ini menunjukkan bahwa tanpa keterlibatan aktif masyarakat desa, persoalan sampah akan sulit ditangani secara optimal.

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah pada April 2025 mengimbau seluruh desa agar turut serta dalam pengelolaan sampah. Himbauan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga merupakan upaya membangun kesadaran kolektif. Paradigma positivisme menjadi pendekatan yang tepat dalam meninjau fenomena ini, karena menekankan pada perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi, percontohan nyata, dan dukungan kebijakan.

Apabila masyarakat desa ikut aktif menangani sampah, dampak positifnya akan sangat besar. Tidak hanya lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat, tetapi juga kualitas hidup meningkat karena berkurangnya resiko penyakit yang berkaitan dengan sampah, seperti demam berdarah, keracunan makanan, dan infeksi saluran pencernaan. Sebaliknya, jika masyarakat tidak peduli, maka pencemaran lingkungan akan meningkat, TPA akan cepat penuh, dan krisis lingkungan akan semakin sulit diatasi.
Salah satu solusi konkret yang dapat ditawarkan adalah konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dan revitalisasi bank sampah. Bank sampah merupakan sarana edukatif dan ekonomis, karena tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memberikan manfaat finansial. Kita dapat meniru apa yang telah dikembangkan oleh Dr. Gamal Albinsaid melalui programnya Garbage Clinical Insurance, di mana masyarakat bisa menukar sampah senilai Rp10.000 untuk mendapatkan jaminan kesehatan lengkap. Selain itu, keberhasilan Bank Sampah Mandiri di Cilacap yang berhasil meraih penghargaan nasional bisa menjadi model inspiratif bagi desa-desa di Lombok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Garbage Clinical Insurance membuat konsep pengelolaan sampah dengan memberikan kesempatan pada Sesuai dengan bank sampah yang diikuti masyarakat untuk menyetor sampah rumah tangga yang sudah di pilah. Setelah menyetorkan sampah, masyarakat dapat mendapatkan kartu anggota atau jaminan akses kesehatan. Dengan jaminan tersebut masyarakat dapat mendapatkan pelayanan kesehatan holistik di klinik atau fasilitas kesehatan yang terafiliasi dengan GCI.

Disisi lain, bank sampah di Cilacap mewajibkan masyarakat untuk memilah sampah dari rumah secara langsung, dengan langkah ini masyarakat dapat membedakan mana sampah yang Organik dan mana sampah yang Anorganik. Pada konsep bank sampah mandiri Cilacap, bisa menjadi nasabah bank sampah tersebut, sampah ditukarkan dengan uang oleh pengelola bank sampah, masyarakat yang bergabung dapat memanfaatkan hasil tabungan dari bank sampah tersebut.

Selain berusaha mencontoh program bank sampah yang telah berhasil tersebut, upaya pengelolaan sampah juga harus melibatkan edukasi langsung kepada masyarakat, melalui penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan oleh tokoh masyarakat dan perangkat desa. Hal ini penting untuk menciptakan perubahan perilaku dan membangun budaya bersih yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah memiliki peran besar dalam menyediakan infrastruktur dan fasilitas pengelolaan sampah, mulai dari tempat pemilahan hingga dukungan untuk program bank sampah. Namun, peran pemerintah tidak akan cukup tanpa keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan lingkungan.

Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan masyarakat harus terus diperkuat. Masyarakat perlu mempelajari contoh-contoh bank sampah yang sukses dan menerapkannya sesuai dengan kondisi lokal. Dengan semangat gotong royong dan kesadaran bersama, Lombok Tengah bisa menjadi contoh daerah yang berhasil menangani sampah dan menjaga kelestarian lingkungannya.

 

Oleh :Kevin Saputra,
Mahasiswa Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam, Universitas Teknologi Sumbawa

Facebook Comments Box

Editor : Kevin Saputra

Berita Terkait

Di Balik Kilau Tambang: Menakar Dampak AMNT bagi Masyarakat KSB
DPRD KSB dalam Prahara: Badai Skandal atau Sekadar Drama Penegakan Hukum?
E-Katalog dan Ilusi Transparansi Digital
Hijau Bernilai: Ketika Pohon Sengon Menjadi Penyelamat Sumbawa
Menakar Peran Lembaga Nilai dalam Legislasi Daerah: Refleksi atas Perda Penyakit Masyarakat di KSB
TGB Pilih Saudara atau Sahabat?
Dukungan Penuh Rusmin Abdul Gani kepada Anindya Bakrie Sebagai Ketum Kadin Baru
Relativitas Bahasa dan Budaya

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 04:58 WITA

Dicecar Puluhan Pertanyaan KPK Selama Dua Jam, Wabup UNA: Syukurnya Tak Pernah Dilibatkan Proyek

Kamis, 13 Agustus 2026 - 04:03 WITA

Wabup UNA dan Sejumlah Pejabat Lombok Barat Diperiksa KPK Terkait Kasus OTT Bupati LAZ

Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:57 WITA

Tender Kampus 3 UIN Mataram Disorot, Dugaan Pengaturan Pemenang dan Deal-dealan Proyek Rp7,8 Miliar Mencuat

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:40 WITA

Polres Lombok Barat Perketat Penertiban Knalpot Brong Jelang HUT RI ke-81: Edukasi dan Penindakan Jadi Prioritas

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:43 WITA

Heboh Isu Penculikan Anak di Sekotong Ternyata Curas, Korban Dijebak Modus Bantuan Sembako

Kamis, 6 Agustus 2026 - 00:24 WITA

Tiga Anggota DPRD NTB Divonis Bebas dalam Kasus Dugaan Korupsi Dana Siluman

Senin, 3 Agustus 2026 - 09:41 WITA

Polresta Mataram Gelar 44 Adegan Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Mahasiswi Unram

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:44 WITA

Polresta Mataram Ringkus Terduga Pembunuh Mahasiswi Unram Saat Hendak Kabur ke Malaysia

Berita Terbaru