LOMBOK BARAT, Halontb.com — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, sejumlah harga bahan pokok di Kabupaten Lombok Barat mengalami kenaikan signifikan, terutama minyak goreng dan daging ayam. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan yang kini menggencarkan operasi pasar murah di sejumlah titik guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Kepala Dinas Perdagangan Lombok Barat, Muhammad Adnan, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan dan survei lapangan yang dilakukan pihaknya di beberapa pasar tradisional, lonjakan harga paling mencolok terjadi pada komoditas minyak goreng.
“Yang cukup signifikan harganya itu minyak goreng. Di pasaran bisa mencapai Rp23 ribu per kilogram, sementara Harga Eceran Tertinggi (HET) hanya Rp15.600,” ujarnya, Rabu (20/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, saat pasar murah digelar bekerja sama dengan Bulog, minyak goreng dijual sekitar Rp15 ribu per kilogram. Namun di tingkat pasar umum, harga mengalami selisih cukup jauh karena rantai distribusi yang panjang.
Selain minyak goreng, harga daging ayam juga mengalami kenaikan hingga berada pada kisaran Rp35 ribu sampai Rp45 ribu per kilogram. Sementara harga telur turut mengalami kenaikan akibat meningkatnya kebutuhan masyarakat.
“Kalau komoditas lain relatif masih stabil. Yang paling menonjol kenaikannya minyak dan ayam,” katanya.
Menurut Adnan, kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Idul Adha serta pola distribusi barang yang masih bergantung pada agen. Banyak pedagang eceran belum bisa membeli langsung ke Bulog karena belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
“Kalau pengecer bisa langsung ambil ke Bulog, tentu harga bisa lebih rendah. Tetapi syaratnya harus punya NIB. Karena belum punya, akhirnya mereka ambil lewat agen dan harga menjadi lebih mahal,” jelasnya.
Dinas Perdagangan, lanjut Adnan, kini mendorong para pedagang pasar maupun pelaku usaha kecil agar segera mengurus NIB sehingga dapat memperoleh barang kebutuhan pokok langsung dari Bulog dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.
“Kalau ambil langsung di Bulog, minyak itu sekitar Rp15.500. Jadi dijual Rp16 ribu sampai Rp17 ribu masih wajar, bukan sampai Rp23 ribu,” tegasnya.
Hasil pemantauan di lapangan juga menunjukkan adanya perbedaan harga antarwilayah. Di Kecamatan Kediri, harga minyak goreng dan ayam tercatat lebih tinggi dibandingkan di Gerung. Sementara komoditas ikan di Gerung cenderung lebih murah karena wilayah tersebut dekat dengan kawasan pesisir dan pelabuhan.
“Perbedaan harga antar pasar memang ada, tergantung mereka mengambil barang dari agen yang mana. Tapi secara umum selisihnya tidak terlalu jauh, kecuali minyak dan ayam,” ujarnya.
Selain bahan pokok, Disdag Lombok Barat juga menyoroti kenaikan harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer. Berdasarkan hasil pemantauan di Gerung, harga LPG di pangkalan sebenarnya masih sesuai ketentuan, yakni Rp18 ribu per tabung. Namun di tingkat pengecer, harga naik hingga Rp22 ribu sampai Rp23 ribu.
Adnan menyebut kenaikan itu dipicu biaya distribusi tambahan karena LPG diantarkan menggunakan kendaraan ke sejumlah pengecer di desa-desa.
“Kalau di pangkalan tetap sesuai aturan. Tetapi pengecer menambah biaya transportasi karena diantar menggunakan mobil ke titik-titik tertentu,” katanya.
Meski demikian, pihaknya mengaku belum menemukan praktik penimbunan LPG secara masif. Tingginya permintaan masyarakat disebut menjadi salah satu faktor utama naiknya harga, terutama di wilayah yang sedang banyak menggelar acara hajatan, syukuran haji, pernikahan, hingga akikah.
“Di Dusun Aik Ampat misalnya, banyak warga yang berangkat haji sehingga kebutuhan LPG meningkat untuk kegiatan masyarakat,” ujarnya.
Untuk mengendalikan gejolak harga, Dinas Perdagangan Lombok Barat terus menggelar pasar murah di sejumlah wilayah. Program tersebut melibatkan Bulog, ritel modern, distributor, hingga pelaku usaha pangan lainnya.
Adnan menyebut pekan ini pasar murah digelar di lima titik, yakni Taman Ayu Gerung, Lembah Sari Batu Layar, Batu Kuta Narmada, Desa Glogor Kediri, serta Senggigi.
“Antusias masyarakat cukup tinggi, terutama untuk beras dan minyak. Beras SPHP dijual Rp54 ribu per lima kilogram dan itu masih jauh lebih murah,” katanya.
Ia menegaskan pasar murah akan terus dilakukan menjelang hari besar keagamaan maupun ketika terjadi gejolak harga di pasar.
“Harapan kami masyarakat tetap bisa menjangkau kebutuhan pokok dengan daya beli yang ada, dan kenaikan harga tidak terlalu signifikan menjelang Idul Adha,” tutupnya.











