MATARAM Halontb.com — Perjalanan ibadah haji ke Tanah Suci tidak selalu berjalan mulus bagi setiap orang. Ujian kesabaran yang mendalam harus dihadapi oleh Mutmainah (54), seorang jemaah calon haji asal Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia sempat tertunda keberangkatannya akibat kondisi kesehatan yang tiba-tiba menurun drastis, sebelum akhirnya kembali dijadwalkan terbang untuk menyusul sang suami.
Awalnya, Mutmainah dan suaminya tergabung dalam rombongan Kloter 8 Lombok Barat Embarkasi Lombok. Namun, sesaat setelah tiba di Asrama Haji Embarkasi Lombok, kondisi fisiknya melemah.
“Saya baru duduk, tiba-tiba muntah-muntah. Padahal dari rumah merasa sehat. Mungkin karena kelelahan,” tutur Mutmainah saat ditemui di Asrama Haji, Minggu (3/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Petugas medis yang berjaga di Asrama Haji langsung melakukan pemeriksaan intensif. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tekanan darah Mutmainah menurun dan ia dinyatakan tidak laik terbang (istitha’ah kesehatan sementara). Tim medis pun memutuskan untuk merujuknya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB guna menjalani perawatan rawat inap.
Kondisi ini sempat memukul perasaan Mutmainah dan suaminya. Pasalnya, selama ini ia sangat bergantung pada sang suami untuk membimbingnya dalam menjalani seluruh rangkaian ibadah, terlebih Mutmainah telah lama mengidap penyakit diabetes.
Plt Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Lombok Barat, H. Suparlan, yang mendampingi jemaah pada momen tersebut, mengakui betapa beratnya situasi psikologis yang dialami pasangan suami istri tersebut.
“Saya sampaikan langsung kepada suaminya bahwa sang istri dinyatakan belum layak terbang dan membutuhkan perawatan intensif. Itu adalah kondisi yang sangat sulit diterima karena tekad kuat mereka untuk berangkat bersama,” ujar H. Suparlan.
Melihat kesedihan yang mendalam, H. Suparlan berusaha memberikan penguatan moral agar sang suami tetap berangkat terlebih dahulu memenuhi panggilan ibadah.
“Panggilan Allah harus diutamakan. Saya meminta beliau untuk menerima ketetapan ini dengan pasrah dan yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Ada hikmah yang tidak kita ketahui. Bisa jadi menurut kita baik, tetapi menurut Allah tidak. Begitupun sebaliknya. Alhamdulillah, sang suami membulatkan hati untuk berangkat terlebih dahulu,” tambahnya.
Perjuangan Mutmainah menuju Baitullah bukanlah perkara instan. Ia dan suaminya telah mendaftar haji sejak tahun 2012 silam, saat usianya menginjak 40 tahun. Selama lebih dari satu dekade, pasangan perantau asal Lamongan, Jawa Timur, ini mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil berjualan cilok di Lombok sejak era 1992 atau kurang lebih selama 34 tahun.
“Bapaknya jualan cilok keliling. Dari usaha kecil itu kami bisa menyisihkan uang dan menyekolahkan anak-anak sampai bangku kuliah,” kenang Mutmainah.
Ketika usahanya sedang ramai, ia mampu menabung hingga jutaan rupiah per bulan demi mewujudkan rukun Islam kelima. Sebagai pelaku usaha mikro, Mutmainah selalu memegang prinsip hidup hemat.
“Kalau dapat untung, jangan dihabiskan semua. Sebagiannya harus ditabung untuk masa depan,” katanya.
Keteguhan hati Mutmainah akhirnya berbuah manis. Doa yang dipanjatkan sang suami dari Tanah Suci diijabah. Setelah menjalani perawatan intensif dan dinyatakan pulih oleh tim dokter, kondisi kesehatan Mutmainah membaik secara signifikan.
Setelah mengantongi surat kelaikan terbang dari tim kesehatan, Mutmainah kini dipastikan dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya. Ia dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Selasa, 4 Mei 2026, bergabung dengan Kloter 10 Mataram.
H. Suparlan menyatakan rasa syukurnya atas perkembangan kesehatan Mutmainah yang memungkinkan dirinya untuk segera menyusul sang suami.
“Alhamdulillah, doa dari Tanah Suci diijabahkan. Ibu Mutmainah kini sudah sehat dan dapat diterbangkan. Insyaallah, nanti beliau akan kembali bertemu dengan suaminya di Makkah dalam satu hotel,” jelas H. Suparlan.
Bagi Mutmainah, kesempatan ini adalah mukjizat dan buah dari kesabaran. Di tengah keterbatasan fisik akibat diabetes yang diidapnya sejak sebelum mendaftar haji, tekadnya tidak pernah surut.
“Sempat sedih karena suami harus berangkat duluan. Tapi alhamdulillah, yang penting sekarang saya bisa menyusul dan nanti bertemu suami di Tanah Suci. Saya hanya berharap bisa sehat, ibadah lancar, dan pulang membawa predikat haji yang mabrur,” pungkasnya dengan mata berkaca-kaca.
Editor : Reza
Sumber Berita : Taufik Nagata











