Kekeringan Ancam Pertanian Lobar, Hampir 150 Hektare Lahan Tempos Terdampak

- Wartawan

Jumat, 4 September 2026 - 04:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Dinas Pertanian Lombok Barat, Muhammad Taufik, menyampaikan kondisi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian di Lombok Barat, Jumat (4/8/2026).

Sekretaris Dinas Pertanian Lombok Barat, Muhammad Taufik, menyampaikan kondisi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian di Lombok Barat, Jumat (4/8/2026).

LOMBOK BARAT, Halontb.com — Kekeringan mulai berdampak terhadap sejumlah areal pertanian di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Dinas Pertanian (Distan) Lombok Barat (Lobar) mencatat wilayah Tempos menjadi salah satu daerah dengan dampak paling luas, disusul sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Kuripan.

Sekretaris Distan Lobar, Muhammad Taufik, mengatakan laporan dampak kekeringan diterima dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang melakukan pemantauan di lapangan. Berdasarkan laporan sementara, dampak kekeringan terutama ditemukan di Tempos dan Kuripan.

“Yang terluas itu di Tempos, hampir 150 hektare. Kemudian di beberapa wilayah, terutama Kuripan, kalau kami total sekitar 10 hektare,” kata Taufik, Jumat (4/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca juga: Lombok Barat Tetapkan Status Siaga Kekeringan, 124 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan

Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, Distan Lobar telah berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan petugas di masing-masing wilayah. Langkah awal dilakukan dengan mengidentifikasi lahan yang masih memiliki sumber air untuk kemudian dibantu melalui sistem irigasi perpompaan.

Upaya tersebut diperkuat dengan dukungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat yang memberikan bantuan pompa. Selain itu, BPTPH Provinsi NTB juga memberikan dukungan pompa irigasi untuk penanganan lahan pertanian terdampak di wilayah Kuripan.

Namun, penanganan kekeringan di Tempos tidak cukup hanya mengandalkan pompa. Menurut Taufik, wilayah tersebut membutuhkan normalisasi aliran irigasi agar pasokan air dapat kembali menjangkau areal pertanian secara lebih optimal.

Baca juga: Pemkab Lombok Barat Targetkan Kemiskinan Turun 1 Persen, Fokus Tangani 4.000 KK Miskin Ekstrem

Salah satu jalur yang menjadi perhatian adalah saluran Pesenggoran. Berdasarkan koordinasi Dinas Pertanian dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), terdapat sejumlah titik pada saluran tersebut yang mengalami penyumbatan akibat bebatuan dan sampah.

“Untuk wilayah Tempos yang cukup besar ini memang tidak bisa hanya menggunakan pompa. Harus ada aliran irigasi yang dinormalisasi,” ujarnya.

Perbaikan saluran Pesongoran saat ini masih dilakukan. Sejumlah titik yang sebelumnya tersumbat telah ditangani, sementara beberapa bagian masih dalam proses pengangkatan sampah. Saluran tersebut nantinya diharapkan dapat kembali mendukung suplai air ke wilayah pertanian Tempos.

Sembari menunggu normalisasi selesai, Distan tetap melakukan langkah darurat terhadap tanaman yang tidak dapat menunggu. Pengairan dilakukan menggunakan pompa, sementara BWS turut membantu menyediakan selang untuk mengalirkan air hingga ke lahan petani yang terdampak kekeringan.

Baca juga: Warga Labuapi Tolak Pembangunan Akses Jalan Perumahan, Petani Persoalkan Pemindahan Saluran Irigasi

Hingga saat ini, Distan Lobar menyebut belum menerima laporan kekeringan dari wilayah lain seperti Sekotong maupun kawasan Lombok Barat bagian utara. Pemerintah daerah masih menunggu laporan resmi dari petugas di masing-masing kecamatan berdasarkan hasil identifikasi kondisi tanaman di lapangan.

Menghadapi potensi kemarau panjang, Distan Lobar juga telah mengingatkan petani agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Petani didorong mempertimbangkan komoditas yang membutuhkan lebih sedikit air agar risiko gagal panen dapat ditekan.

“Jangan sampai petani menanam tanaman yang membutuhkan pengairan banyak sementara air tidak ada,” kata Taufik.

Baca juga: Jelang Pilkades 2026, Asisten I Lobar: Konsistensi Bekerja adalah Kampanye Terbaik Incumbent

Selain bantuan pompa, pemerintah juga mengembangkan program Irigasi Perpompaan (Irpom), khususnya di sejumlah wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air seperti Sekotong dan Lembar. Menurut Taufik, tahun ini terdapat hampir 50 titik Irpom yang masing-masing diproyeksikan dapat mengairi sekitar 10 hektare, sehingga secara keseluruhan berpotensi mencakup hampir 500 hektare lahan.

Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghadapi kekeringan, tetapi juga meningkatkan indeks pertanaman. Taufik mencontohkan kawasan Banyu Urip yang sebelumnya hanya dapat ditanami padi satu kali. Setelah Irpom berfungsi, sekitar 130 hektare lahan di kawasan tersebut kini dapat ditanami padi hingga dua kali, bahkan sebagian lahan telah dimanfaatkan untuk menanam semangka pada musim berikutnya.

Baca juga: Wabup Lobar Minta Segel Kantor Desa Kebon Ayu Dibuka, Sengketa Lahan Jangan Korbankan Warga

Distan Lobar menilai ketersediaan air menjadi faktor penting dalam mempertahankan Lombok Barat sebagai salah satu sentra pangan. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan infrastruktur sumber air, mulai dari irigasi perpompaan, sumur bor hingga embung yang memiliki kapasitas cukup besar untuk mengairi lahan dalam cakupan luas.

Distan juga telah menyampaikan kebutuhan tersebut kepada tim Kementerian PUPR yang meninjau sejumlah lokasi, termasuk kawasan Gabuk yang menghadapi persoalan kekeringan dan banjir secara berulang.

Taufik kembali mengimbau petani agar menjadikan kondisi iklim sebagai pertimbangan utama sebelum menentukan komoditas yang ditanam.

Ketika terdapat informasi mengenai potensi kekeringan panjang, petani disarankan memilih tanaman yang relatif membutuhkan lebih sedikit air, seperti jagung dan palawija.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kerugian apabila sumber air tidak mencukupi selama musim tanam.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polri Tanam Bawang Putih Serentak di 17 Provinsi, Sembalun Jadi Pusat Penguatan Swasembada Nasional

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 20:45 WITA

Pencarian Hari Kedua, Nelayan Hilang di Perairan Areguling Ditemukan Meninggal Dunia

Jumat, 28 Agustus 2026 - 12:36 WITA

Nelayan Hilang di Perairan Bangko-Bangko Lombok Barat Ditemukan Selamat

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:25 WITA

ASDP Bergerak Cepat Tangani Ibu Hamil Pecah Ketuban di Atas KMP Portlink II

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:43 WITA

Kapolda Bersama Gubernur NTB Tinjau Rumah Adat Sasak Sade yang Terbakar

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:19 WITA

Kebakaran Melanda Desa Sade, Brimob Polda NTB Turunkan Water Cannon Bantu Pemadaman dan Evakuasi

Minggu, 23 Agustus 2026 - 02:08 WITA

Baru Tiba dari NTT, Gubernur Iqbal Langsung Turun ke Lokasi Kebakaran Desa Adat Sade

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 03:08 WITA

Tiket MotoGP Mandalika 2026 Sudah Terjual 50%, Pemprov NTB Genjot Infrastruktur dan Layanan Inklusif

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:19 WITA

Korban KMP Putri Yasmin Meninggal setelah Delapan Hari Dirawat, Keluarga Pertanyakan Tanggung Jawab Perusahaan

Berita Terbaru