Brigadir Rizka Dituntut 14 Tahun Penjara atas Kematian Suaminya Brigadir Esco

- Wartawan

Rabu, 10 Juni 2026 - 05:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Sidang mendengarkan pembacaan tuntutan dari JPU di Pengadilan Negeri Mataram, Selasa (9/6/2026). (Foto: Istimewa)

Suasana Sidang mendengarkan pembacaan tuntutan dari JPU di Pengadilan Negeri Mataram, Selasa (9/6/2026). (Foto: Istimewa)

MATARAM, Halontb.com – Kasus dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang berujung pada kematian anggota Intel Polsek Sekotong, Brigadir Esco Faska Relly, memasuki babak baru. Sang istri yang juga merupakan oknum polisi wanita (Polwan) Polres Lombok Barat, Brigadir Rizka Sintiyani, dituntut hukuman 14 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Selasa (9/6/2026).

Dalam amar tuntutannya, JPU menilai terdakwa Rizka Sintiyani secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

“Menjatuhkan pidana terhadap Rizka Sintiyani berupa pidana penjara selama 14 tahun dikurangi selama terdakwa berada di dalam tahanan, dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan,” ujar anggota tim JPU, M. Muthmainnah, saat membacakan berkas tuntutan di hadapan majelis hakim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

JPU menjerat terdakwa dengan Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) jo Nomor 38 lampiran 1 UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, sebagaimana dakwaan pertama. Selain hukuman badan, terdakwa juga dibebankan membayar biaya perkara sebesar Rp5.000.

Di dalam persidangan, Jaksa menguraikan sejumlah pertimbangan yang memberatkan hukuman bagi Brigadir Rizka. Perbuatan terdakwa dinilai telah meresahkan masyarakat luas. Terlebih lagi, Rizka merupakan seorang aparat penegak hukum aktif yang seharusnya mengayomi dan memberikan contoh yang baik.

“Hal yang memberatkan lainnya, terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan cenderung memberikan keterangan yang berbelit-belit selama proses persidangan berjalan,” tegas Muthmainnah. Akibat perbuatan terdakwa, korban yang merupakan suaminya sendiri meninggal dunia.

Sementara itu, untuk hal yang meringankan, jaksa mempertimbangkan status terdakwa yang belum pernah dihukum sebelumnya serta memiliki dua anak yang masih kecil dan membutuhkan asuhan seorang ibu.

Kasus tragis ini bermula pada Agustus 2025 lalu, ketika jenazah Brigadir Esco Faska Relly ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan leher terjerat tali di sebuah kebun kosong. Lokasi penemuan tidak jauh dari rumah dinas atau kediaman korban di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Setelah dilakukan penyelidikan mendalam, pihak kepolisian menetapkan sang istri, Brigadir Rizka, sebagai tersangka utama.

Namun, Rizka tidak sendirian dalam menghadapi meja hijau. Kasus ini juga menyeret empat terdakwa lainnya, yakni H. Saiun, Hj. Nuraini, Ahmad Paozi, dan Dani Rifkan, yang diduga kuat ikut membantu menyembunyikan jenazah korban pasca-kejadian.

Terhadap keempat terdakwa tersebut, JPU melayangkan tuntutan pidana penjara selama 9 bulan. Mereka dinilai terbukti melanggar Pasal 270 juncto Pasal 20 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa H. Saiun, Hj. Nuraini, Ahmad Paozi, dan Dani Rifkan berupa pidana penjara selama sembilan bulan, dikurangi masa penahanan yang telah dijalani,” kata Jaksa.

Sama seperti Rizka, keempat terdakwa dinilai memberikan keterangan yang berbelit-belit, tidak menunjukkan penyesalan, serta menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi keluarga besar korban, khususnya anak-anak korban yang masih balita. Faktor yang meringankan bagi keempatnya adalah sikap sopan selama persidangan dan belum pernah tersangkut hukum. Masing-masing juga dibebankan biaya perkara sebesar Rp5.000.

Sidang akan kembali dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda pembacaan nota pembelaan (pledoi) dari terdakwa maupun penasihat hukumnya.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Polisi Tetapkan Dua Tersangka Kasus Santri Tewas Terbakar di Lombok Tengah
Eksekusi Lahan Tanpa Juru Sita di Babussalam, Langkah Kades Kuripan Tuai Kecaman Ahli Waris
Kapolda NTB Beri Santunan Korban Tersulut Api di Ponpes di Lombok Tengah, Tersangka Segera Diumumkan
Brigjen LMI Jadi Tersangka Dugaan Korupsi MBG, Lurah Dasan Geres Ungkap Sosoknya yang Aktif Berkurban dan Peduli Sosial
Kejagung Tetapkan Brigjen Pol Lalu Muhammad Iwan Mahardan Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Program MBG
Polda NTB Tetapkan Pengelola LPK Ilegal jadi Tersangka TPPO, Raup Rp95 Juta dari Calon PMII
Polda NTB Ungkap 163 Kasus 3C, Ditreskrimum Kembalikan Motor Curian ke Pemilik
Diduga Peras Guru Terpencil hingga Ratusan Juta, Oknum Kabid Dikbudpora Bima Resmi Diserahkan ke Kejaksaan

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:58 WITA

Kopihyang Corner Buka Cabang Ketiga di Gerung, Rangkaian Grand Opening Diwarnai Aksi Sosial Santun Anak Yatim

Selasa, 30 Juni 2026 - 11:11 WITA

Tak Sekadar Bicara Listrik, PLN UIW NTB Bangun Kesadaran Generasi Muda Lawan Kekerasan Seksual Lewat Srikandi Goes to Campus

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:59 WITA

Edukasi Keselamatan Kelistrikan Jadi Prioritas, PLN UIW NTB Gandeng Pemkab Lombok Barat Bangun Budaya Zero Accident

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:23 WITA

PLN Percepat Ekosistem Kendaraan Listrik di NTB, 51 SPKLU Beroperasi dan Media Diajak Kawal Transformasi Energi

Senin, 22 Juni 2026 - 00:09 WITA

Sentuh Ujung Lombok Barat, Gerakan Pangan Murah Pemprov NTB Sukses Tekan Harga Sembako

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:00 WITA

Keselamatan Jadi Prioritas, PLN UP3 Selaparang Satukan Langkah Seluruh Personel Perkuat Budaya K3

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:44 WITA

Perkuat Literasi Digital Pelanggan, Srikandi PLN Selaparang Gencarkan Sosialisasi PLN Mobile di Lombok Timur

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:56 WITA

Keandalan Listrik Dimulai dari Sistem Pengawasan, PLN Rawat Peralatan Monitoring Gardu Induk Mantang

Berita Terbaru