MATARAM Halontb.com – Arus pengiriman hewan ternak dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menuju sejumlah wilayah di Indonesia mengalami peningkatan signifikan menjelang Iduladha 1445 H. Otoritas Karantina mencatat, hingga akhir April 2024, lebih dari 26.000 ekor ternak telah diberangkatkan, dengan estimasi total mencapai 30.000 ekor pada puncak musim kurban tahun ini.
Kepala Karantina NTB, drh. ina Soelistyani, melalui Ketua Tim Kerja Karantina Hewan, Amirullah, mengungkapkan bahwa mayoritas komoditas yang dikirim adalah sapi potong yang berasal dari lima wilayah utama di Pulau Sumbawa, yakni Kabupaten Bima, Kota Bima, Dompu, Sumbawa, dan Sumbawa Barat.
“Sampai dengan tanggal 27 April kemarin, data riil yang sudah tersertifikasi keluar mencapai 25.974 ekor. Jika dikalkulasi dengan pengiriman ke wilayah non-Jabodetabek seperti Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Lombok, totalnya diperkirakan menyentuh angka 30.000 ekor,” ujar Amirullah saat memberikan keterangan kepada media, Selasa (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tahun ini, NTB mencatatkan kenaikan kuota pengiriman ternak menjadi 52.900 ekor, meningkat dibandingkan tahun lalu yang berada di angka 49.000 ekor. Amirullah menyebut para peternak dan pelaku usaha menunjukkan antusiasme tinggi, namun tetap patuh pada regulasi kesehatan hewan yang ketat.
Untuk menjamin keamanan konsumen di daerah tujuan, setiap hewan yang dilalulintaskan wajib melewati serangkaian prosedur karantina. Hal ini dilakukan guna mencegah penyebaran penyakit menular yang menjadi atensi pemerintah, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD).
“Semua sudah melalui pemeriksaan fisik, masa karantina, hingga uji laboratorium PCR PMK. Kami memastikan hanya hewan yang sehat dan layak yang mendapatkan sertifikasi untuk berangkat. Jika ditemukan gejala klinis atau kondisi lemas saat pemeriksaan, tidak akan kami berangkatkan,” tegasnya.
Kemudian terkait kepatuhan administrasi, Amirullah mengapresiasi kesadaran para pelaku usaha di NTB. Hingga saat ini, pihak Karantina tidak menemukan adanya pengiriman ilegal atau tanpa dokumen. Ketegasan pengawasan di pelabuhan tujuan, seperti di Jawa Timur, menjadi faktor kunci yang membuat peternak tidak berani berspekulasi.
“Data yang keluar dari sini langsung kami kirim ke Jawa Timur. Jika ada ketidaksesuaian jumlah atau dokumen di sana, risikonya ditahan. Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada temuan pelanggaran,” tambahnya.
Masa puncak pengiriman ternak untuk kebutuhan Iduladha dilaporkan telah terlewati pada 25-26 April lalu. Meski sempat terjadi penumpukan akibat berbarengan dengan musim panen jagung yang memicu kepadatan logistik, situasi berhasil diatasi berkat koordinasi tim Satgas lintas instansi.
Sinergi tersebut melibatkan Dinas Peternakan, Kepolisian (Polres), KSOP, Perhubungan, BPBD, Pelindo, ASDP, hingga TNI (Babinsa). Pola pengaturan arus kendaraan dari Pelabuhan Tano ke Pelabuhan Gili Mas dilakukan secara fluktuatif untuk mencegah kemacetan panjang.
“Estimasi kami, pengiriman khusus untuk Iduladha akan berakhir sekitar tanggal 13 Mei mendatang, atau 10 hari sebelum hari raya. Setelah itu, pengiriman akan kembali ke jalur reguler untuk memasok kebutuhan daging nasional hingga akhir tahun,” pungkas Amirullah.
Dengan pengawasan berlapis dan koordinasi yang solid, otoritas karantina menjamin bahwa stok hewan kurban asal NTB yang beredar di masyarakat dalam kondisi sehat, bebas penyakit, dan memiliki legalitas yang sah.
Editor : Reza
Sumber Berita : Taufik Nagata











