SUMBAWA BARAT,Halontb.com – Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumbawa Barat memilih kembali meneguhkan akar tradisi. Melalui agenda Lailatul Ijtima yang dihidupkan kembali dalam rangkaian Safari Ramadhan 1447 H, NU Sumbawa Barat ingin memastikan bahwa hubungan harmonis antara ulama, masyarakat, dan pemerintah tetap terjaga kuat.
Kegiatan yang digelar di Central HWM Center, Sabtu (7/3/2026), tidak sekadar menjadi forum ibadah bersama. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang konsolidasi moral, sosial, dan spiritual warga Nahdliyin di Bumi Pariri Lema Bariri.
Ketua PCNU Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W. Musyafirin, M.M., menegaskan bahwa tradisi Istighosah dan Lailatul Ijtima merupakan warisan para ulama yang selama puluhan tahun menjadi perekat hubungan antar warga sekaligus jembatan komunikasi antara ulama dan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Manfaat utamanya adalah silaturahmi. Melalui Istighosah dan Lailatul Ijtima, PCNU dapat menyatu dengan seluruh ranting hingga tingkat paling bawah. Kita tidak hanya berkumpul untuk berdoa, tetapi juga memperkuat ikatan kemanusiaan dan persaudaraan,” ujar Musyafirin di hadapan jamaah.
Menurutnya, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ruang-ruang kebersamaan seperti ini menjadi semakin penting. Tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama tidak hanya berfungsi sebagai amaliah spiritual, tetapi juga sebagai benteng sosial agar masyarakat tetap berada dalam harmoni.
Musyafirin menilai, salah satu dampak paling nyata dari kegiatan istighosah rutin adalah terciptanya hubungan yang sehat dan saling menguatkan antara pemerintah dan ulama.
“Selama komunikasi dijaga melalui forum seperti ini, tidak akan ada jarak antara pemerintah dan ulama. Semua berjalan beriringan dalam semangat membangun daerah,” tegasnya.
Karena itu, ia mengimbau seluruh pengurus NU, mulai dari tingkat cabang hingga ranting di setiap kecamatan, untuk kembali menghidupkan tradisi Lailatul Ijtima yang selama ini menjadi ciri khas amaliah Nahdliyin.
Ia mengakui, dalam beberapa tahun terakhir masih terdapat sejumlah wilayah yang belum aktif melaksanakan kegiatan tersebut. Padahal, menurutnya, Lailatul Ijtima bukan sekadar agenda rutin, melainkan identitas organisasi yang harus terus dijaga.
“Mari kita hidupkan kembali Lailatul Ijtima dengan istighosah, pembacaan yasin, tahlil, hingga selawat. Ini bukan hanya tradisi, tetapi identitas kita sebagai warga Nahdlatul Ulama,” serunya.
Lebih jauh, Safari Ramadhan PCNU Sumbawa Barat tahun ini juga membawa misi strategis yang lebih luas. Selain memperkuat spiritualitas warga, kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kaderisasi yang kokoh sekaligus mendorong kemandirian ekonomi warga NU.
Melalui momentum Ramadhan, jamaah diajak memahami bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesadaran bahwa setiap perilaku manusia berada dalam pengawasan Allah SWT.
Kesadaran spiritual tersebut, menurut Musyafirin, menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter religius sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan.
“Ketika amaliah NU tetap hidup, maka nilai-nilai keislaman yang moderat, toleran, dan cinta tanah air juga akan terus tumbuh. Dari sinilah fondasi karakter masyarakat yang kuat akan lahir,” ujarnya.
Dengan menghidupkan kembali Lailatul Ijtima, PCNU Sumbawa Barat berharap tradisi ulama tetap lestari, persaudaraan antarwarga semakin kokoh, dan sinergi antara ulama serta pemerintah terus terjaga demi kemajuan daerah.
Sumber Berita : Agus Sofyan Ghosy


































